Maandag 27 Mei 2013

Sepenggal Sejarah Perjuangan Masyarakat Kaneyan Melawan Penjajahan Jepang (Bumihangus dan Pembantaian Rakyat di Kaneyan Minahasa Selatan)


Kaneyan hanya desa kecil di pelosok Kecamatan Tareran Kabupaten Minahasa Selatan. Tak ada yang mencolok bila mengunjunginya, sebab Kaneyan lazimnya negeri-negeri lain di Tanah Minahasa. Namun, jangan heran, kalau nama Kaneyan harum serta menghiasi buku-buku sejarah yang mengulas tentang Perang Dunia II, khususnya kisah Perang Pasifik serta invasi Jepang ke Indonesia. Dari desa yang di masa tersebut masih masuk wilayah kekuasaan Kepala Distrik Kawangkoan menggelora pertempuran heroik antara pasukan Dai Nippon yang canggih peralatannya melawan sisa-sisa pasukan KNIL dibantu pemuda yang bersenjata senapan mesin ringan seadanya.


Bagi Sersan Johan Meliëzer (kelahiran Ternate 6 Agustus 1896), komandan E Company, peleton (disebut kompi) Reserve Korps (RC) Oud Militairen, Kaneyan merupakan medan pertahanan strategis dalam konsep perang gerilya (gorela) yang telah dikumandangkan Komandan Garnisun (Troepencommandant) Manado Mayor B.F.A.Schilmöller. Kaneyan akan menjadi pertahanan dan medan laga terakhir dari sisa-sisa kompi RK pimpinan Kapten Willem Carel van den Berg yang telah hancur.

Meski sekedar pasukan cadangan, beranggotakan para pensiunan Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), alias militer tua, dengan usia rata-rata di atas 50 tahun, namun semangat juang peleton yang dipimpinnya tidak luntur. Dari 5 peleton awal Reserve Korps, tinggal pasukannya yang tersisa setelah mereka mundur dari Kakas dan Langowan. Pertempuran yang begitu sengit, sehingga banyak menewaskan serdadu Jepang, dan juga banyak korban di pihaknya. Peletonnya ikut menderita kerugian tak terkira, sebab dari tiga brigade (regu) dibawahnya, tinggal tersisa satu regu berkekuatan 15 anggota.

Banyak perwira dan rekannya telah ditahan atau gugur dan dibunuh oleh Jepang yang  tidak mengindahkan aturan baku internasional tentang perlakuan terhadap para tahanan perang (POW). Dari Kompi Manado pimpinan Kapten W.F.J.Kroon, telah dieksekusi di Langowan tanggal 26 Januari Sersan Mayor Infantri Jan Hendrik Kersten, Sersan Mayor Gerrit Bottinga, Sersan J.W.Meijer, Sersan G.H.J.Wissink, Sersan Charles Hendrik Couzijn dan Sersan H.J.A.Rolff ¹.

Willem Carel van den Berg 



Di subuh hari Senin tanggal 9 Maret 1942²  yang bersuasana kelabu, ketika sebagian besar penduduk Kaneyan masih terlelap tidur, pasukan Jepang datang menyerang. Jepang mengetahui Sersan Johan Meliëzer beserta sisa-sisa peletonnya bertahan di negeri tersebut. Beberapa serdadu Meliëzer memang asli Kaneyan sehingga sangat menguntungkan rencananya dengan penguasaan medan serta dukungan moral dan materil dari penduduk.
Pasukan Dai Nippon berkekuatan satu kompi organik datang dari dua arah. Tentara berjalan kaki dari arah jembatan Ranotua’na ke Kaneyan, sedang lainnya dengan menggunakan puluhan kendaraan muncul dari jurusan Ritey (kini desa di Kecamatan Amurang Timur). Mereka dihantar langsung Kepala Distrik Amurang, Hukum Besar (Guntjo) Dirk ‘Dicky’ August Theodorus Gerungan serta Kepala Distrik Kedua (Huku Guntjo) Amurang-Tenga, Hukum Kedua Hein ‘Notji’ Constantjin Mantiri.

Pasukan Jepang segera mengepung dengan mengambil steleng di sebelah utara, barat, timur dan selatan negeri untuk mencegah siapa pun meloloskan diri. Ketika penduduk bangun pagi dan mengetahui kedatangan pasukan Jepang, kehebohan segera terjadi. Panik dan ketakutan mereka berlarian tunggang-langgang ke berbagai arah. Namun, dengan mudah ditangkapi, sebab pasukan Jepang telah menyebar dan mencegat di tempat-tempat penting.

Penduduk yang ditangkap langsung diinterogasi disertai dengan penyiksaan. Pukul rata mereka ditanyai dimana pasukan gorela Sersan Johan Meliëzer bersembunyi, dimana rumah-rumah dari para gorela, dimana rumah Hukum Tua dan rumah keluarga Houtman-Pratasis³.

Houtman dimaksud adalah bule keturunan Belgia bernama lengkap Pieter Joseph Houtman yang memperistri wanita asal Kaneyan bernama Carolina Pratasis. Pieter Houtman adalah orang terpandang dan mantan kepala dinas Pekerjaan Umum serta polisi di Kotamobagu Bolaang Mongondow. Ia salah seorang warga sipil penerima gelar kehormatan Ridder(ksatria) in de Militaire Willems-Orde (MWO), yang biasa diberikan untuk tindakan keberanian dan loyalitas. Pieter Houtman diketahui pula seorang yang kaya dan menyimpan puluhan batangan emas murni yang diperolehnya sejak masih bertugas di Kotamobagu.

Pieter dicari Jepang karena menyangkanya sebagai pejabat dari regu pembumihangus (Vernielings Corps) yang dibentuk Belanda untuk menghalangi gerak-maju pasukan Jepang di Minahasa. Regu tersebut bertugas menghancurkan jembatan, gudang-gudang persediaan beras dan kopra yang akan menguntungkan bila nanti jatuh ke tangan Jepang. Selain itu, ia dianggap membantu bekas Reserve Korps KNIL yang bersembunyi di Kaneyan. 
Truk Jepang di Kakaskasen Tomohon 


Pasukan Jepang segera menyisir menuju ke tengah-tengah negeri dan melakukan penggerebekan. Mereka berhasil menangkap Pieter Houtman dan menyita puluhan batangan emas murni miliknya. Carolina Pratasis istri Pieter berhasil meloloskan diri, lari bersembunyi di hutan bersama-sama dengan keluarga Pratasis lain disertai hukum tua dan keluarga-keluarga dari pasukan Johan Meliëzer.

Marah tidak menemukan orang-orang yang dicari meski telah menangkap Pieter Houtman, pasukan Jepang mulai membabi-buta. Mereka segera membumihanguskan Kaneyan. Dalam sekejab Kaneyan berubah menjadi lautan api yang meludaskan seisi negeri. Habis terbakar antaranya gedung gereja GMIM yang digunakan pula untuk kegiatan belajar-mengajar Sekolah Rakyat (kini SD) GMIM Kaneyan. Lalu rumah hukum tua dan rumah keluarga Pieter Houtman-Pratasis, begitu pun rumah-rumah dari keluarga para serdadu KNIL yang bergerilya. Sebuah jembatan di tengah Kaneyan ikut dihancurkan.   

Kebakaran hebat melanda Kaneyan selama hampir tujuh jam. Akibatnya tiga perempat bagian negeri tersebut musnah terbakar, bersama barang-barang perabot rumah, persediaan padi, jagung dan kopi yang belum lama dipanen. Bahkan terbakar pula semua ternak peliharaan seperti babi, ayam dan anjing.

Pembumihangusan Kaneyan disaksikan Guntjo Amurang Dicky Gerungan serta Huku Guntjo Notji Mantiri yang tidak dapat berbuat apa-apa. Dicky Gerungan yang di kemudian hari menjadi Bupati (KDM, Kepala Daerah Minahasa) pertama, saat itu menjadi kepercayaan Letnan Kolonel Toyoaki Horiuchi dari Teikoku Kaigun (AL Kerajaan Jepang, IJN) yang bermarkas di Langowan yang bertugas mengatur pemerintahan sipil di Minahasa.

Frans Albert Suak, saksi mata peristiwa tanggal 9 Maret 1942 itu mengisahkan semua penduduk yang berlarian ditangkap dan dijadikan sandera, dijaga ketat pasukan bersenjata lengkap yang beringas. Tidak memandang bulu apakah sandera masih anak-anak balita atau remaja, wanita dan orang tua tidak berdaya. Mereka semua dicampur-aduk menjadi satu. Hari yang tidak bakal dilupakan Frans Suak, karena hari itu ia genap berumur empat tahun dan ikut ditahan bersama ibu dan seorang adik lainnya.

Pembakaran serta penyanderaan penduduk Kaneyan itu menyebabkan pasukan KNIL Johan Meliëzer melakukan serangan balik, sehingga kemudian terjadi pertempuran sengit. Personil Meliëzer yang awalnya hanya terdiri satu regu (15 orang) telah berkembang menjadi 30 orang setelah sejumlah pemuda Kaneyan, Ritey dan Maliku dibawah pimpinan Simon Penu dan Yahya Rumagit secara sukarela bergabung untuk melawan Jepang.

Para gorela mantan KNIL dan pemuda yang melakukan perlawanan antara lain: Simon Penu, Gerard Ratag, Erick Ratag, Ulrich Umboh, Jus Sumolang, Harun Rantung, Arie ‘Odie’ Ropa, Sengkey Rantung, Hein Rantung, Piet Umboh, Buang Rumengan, Jost Kawulur, Jon Suak, Jan Winerungan, Nyong Tambajong, Kilapong dan Alex Lambertus Lelengboto (masih remaja. Kelak jadi Bupati Minahasa 1982-1987).
‘’Pertempuran berlangsung seru diwarnai dentuman mortir pasukan Jepang dan balasan tembakan peluru para gorela dan pemuda yang bertahan di bukit-bukit,’’ kisah Frans Suak.

Pertempuran berakhir dramatis. Tak ada korban di pasukan Meliëzer. Justru korban jiwa ada di pihak Jepang yang menggunakan senjata berat. Serdadunya banyak menderita luka, bahkan tewas terkena peluru tembakan eks KNIL yang terkenal sebagai penembak-penembak jitu. Delapan tentara Jepang tewas, sedangkan komandannya Baron Masakaze Takasaki menderika luka-luka.

Kemarahan tentara Jepang tak terbendung. Sejumlah gorela termasuk keluarganya, apalagi yang memiliki fam Pratasis ketika tertangkap langsung disiksa dengan dipukul dan ditendang. Mereka pun segera membunuh enam orang tahanan di ujung Kaneyan di tempat bernama Tolongko. Para korbannya adalah: Petrus Penu, Frederik Joel Rumengan yang menjadi Kepala Sekolah Rakyat GMIM Kaneyan, Runtu Ropa dan Sampel Tambajong. Dua wanita yang ikut dibunuh adalah ibu Hukum Tua Ritey Kimbal-Piay-Imbar dan Dina Pratasis seorang janda. Dina Pratasis adalah nenek (oma) Frans Suak dan kakak dari Carolina Pratasis, istri Pieter Joseph Houtman.

‘’Cara pembunuhan para korban termasuk oma saya, sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan. Setelah mata mereka ditutup kain hitam, mereka diperintah membuka mulut, lalu ditusuk menggunakan bayonet seperti menyembelih seekor babi,’’ ungkap Frans Suak yang belakangan menjadi guru serta penginjil Pantekosta.

Mayat keenam korban pembunuhan dibiarkan begitu saja di pinggir jalan. Baru berselang beberapa hari kemudian keluarga dan penduduk memberanikan diri mengambil serta menguburkan jenasah mereka.

Usai melakukan pembunuhan, pasukan Jepang yang secara moril kalah, pulang kembali. Tentara yang ke Amurang dihadang ulang pasukan Meliëzer di lokasi bernama Le’ler, sehingga sempat berlangsung bakutembak. Pieter Joseph Houtman bersama emas sitaan dibawa ke Langowan dan dikabarkan segera dieksekusi mati.

Selang beberapa hari kemudian, tentara Jepang dengan kekuatan lebih besar dan bersenjata lengkap kembali mendatangi Kaneyan. Sisa-sisa bangunan dibakar habis. Dengan dipimpin Suoth dan Kawung, mereka menyisiri wilayah-wilayah perkebunan mencari para gorela dan keluarga Pratasis. Dalam operasi ini tertangkap Sersan Johan Meliëzer, Simon Penu, Carolina Houtman-Pratasis, Joel Pratasis, Hukum Tua Kaneyan, Althin Gode Pratasis, Musa Pratasis, Yahya Rumagit, Jus Sumoked, Ulrich Umboh dan Agam Penu. ‘’Ada versi pasukan gorela menyerahkan diri secara sukarela dan tidak melakukan perlawanan lagi karena penduduk Kaneyan dan keluarganya diancam akan dibunuh habis,’’ ungkap Frans Suak.

Kesemua tahanan tersebut diangkut ke Langowan, sekitar 28 kilometer dari Kaneyan. Mereka mengalami siksaan mengerikan selama diinterogasi, dan tak lama kemudian, diperkirakan di awal bulan April 1942 mereka dibawa ke Totolan Kakas dan dibunuh secara kejam serta dikuburkan dalam satu lubang. Sumber-sumber menyebut sebanyak 27 anggota pasukan dan masyarakat Kaneyan yang dibunuh saat itu. Sersan Johan Meliëzer bersama 12 anak buahnya dan sisanya adalah para penduduk. Yang luput dari eksekusi Jepang hanya Agam Penu.  

Penderitaan penduduk Kaneyan setelah pembunuhan para gorela dan warga itu ternyata belum berakhir. Meski tinggal mengungsi di kebun karena rumah dan harta benda sudah habis terbakar, gerak-gerik mereka terus dalam pengawasan Kempetai yang sangat ditakuti.

Belum lama berselang, seluruh warga tanpa pengecualian diperintahkan berkumpul di Amurang. Maka, semua penduduk Kaneyan, laki-laki, perempuan, tua dan muda termasuk anak-anak berjalan kaki sejauh 15 kilometer dengan hanya berpakaian di badan dan tanpa membawa bekal. Ketika tiba di lokasi pemeriksaan (kini sekitar halaman gedung DPRD Kabupaten Minahasa Selatan dan SMP Negeri I Amurang), di bawah pohon beringin, mereka dipisah-pisah. Kaum pria segera diinterogasi tentara Jepang dan Guntjo Dicky Gerungan serta Huku Guntjo Hein Mantiri. Berbekas diingatan Frans Suak yang baru berusia 4 tahun ketika tentara Jepang tanpa segan-segan memukul siapa pun dengan cambuk rotan. Salah satu yang kena cambukan adalah ayahnya sendiri.

Usai pemeriksaan, mereka disuruh pulang kembali dengan berjalan kaki. ‘’Itu merupakan penderitaan tak terhingga, karena rata-rata semua orang dalam kondisi lemah sebab lapar dan kelelahan,’’ kisahnya.

Karena hukum tuanya telah dibunuh, untuk mengisi kevakuman pemerintahan, Guntjo Dicky Gerungan dengan izin Jepang mengangkat Narsisius Ropa menjadi Sontjo (sebutan hukum tua) di Kaneyan.

Belum lama pula, hanya berselisih beberapa minggu kemudian, semua laki-laki Kaneyan diperintahkan untuk bekerjabakti di tempat-tempat jauh, pergi ke Mapanget, Bitung, Kalawiren, Langowan, Kiawa, Tawaang dan bahkan hingga ke Kotamobagu. Mereka diperintah membawa makanan sendiri dan harus jalan kaki tanpa uang. Ketika berangkat, ada penduduk yang mesti membawa roda sapi bersama sapinya, sebab diperintahkan siapa pun yang punya sapi dan roda harus membawanya.
                         Perwira militer dan angkatan laut Jepang di Manado tahun 1945. *)


Melalui Nantaku, dikisahkan Frans Suak, para laki-laki Kaneyan dipaksa bekerja rodi selama berbulan-bulan. Mereka mesti meninggalkan istri dan anak-anak yang menghuni pondok-pondok kecil di penyingkiran tanpa pakaian dan makanan. Tak heran ketika itu berjangkit penyakit sampar, busung lapar, malaria, luka-luka dan kudis. Untuk membeli obat penduduk tidak memiliki uang. Otomatis obat tradisional yang digunakan.
Kemiskinan luar biasa melanda penduduk. ‘’Kala itu muncul perintah lagi penduduk harus memelihara ayam dan babi yang diperuntukkan Nantaku. Kaum perempuan diwajibkan membuka lahan perkebunan ditanami kapas yang diperuntukkan pabrik tekstil dari perusahaan Jepang Nantaibo. Sehari-suntuk mereka harus bekerja dengan membawa bekal sendiri, sehingga yang menjaga pondok-pondok hanya anak-anak kecil.’’

Penduduk berimprovisasi sendiri. Tak ada pakaian, para lelakinya membuat pakaian cidako dari kulit pohon. Obat malaria diambil dari kulit pohon Kita’ yang diminum sebagai pengganti obat kina.

Selang 3,5 tahun masa pendudukan Jepang di Minahasa, penduduk Kaneyan benar-benar menderita lahir-batin. Tapi, dari penderitaan itu mereka tertempa menjadi orang-orang ulet. Di masa penderitaan itu lahir salah seorang putra Kaneyan yang menjadi terkenal, yakni Alexander Marentek, anak seorang penatua yang juga menjadi korban pembunuhan Jepang di tahun 1942. Marentek adalah diplomat yang pernah menjadi Konsul Jenderal di Davao Filipina dan Amerika Serikat, terakhir sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri hingga meninggal dalam kecelakaan heli di Bedugul Bali akhir Juni 1978. Ia dimakamkan di TMP Kalibata dan dianugerahi gelar dutabesar anumerta.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking