Maandag 06 Mei 2013

Perang Melawan Bolaang-Mongondouw dan Lahirnya Ikrar Minaesa


Ketika Raja Bolaang-Mongondouw dibunuh oleh pasukannya sendiri oleh kecerdikan Pingkan Mogoguney, maka dimulailah perang Malesung melawan Bolaang-Mongondouw (1606). Pada waktu itu suku-suku Minahasa tinggal di wilayahnya masing-masing sebagai negara-negara walak dengan pemerintahan sendiri. Pemimpin setiap walak disebut Tu’a um Walak.

Dari kerajaan Bolaang-Mongondouw, datanglah Ramokian menyerang Langoan, tetapi pasukannya berhasil dikalahkan. Ketika bala bantuan didatangkan, ia memutuskan untuk menyerang negeri Kakas dan Tondano. Dotu Gerungan (Tondano) dan Dotu Wengkang (Kakas) maju menghadapinya dan memukul mundur mereka sampai ke Mangket, dekat Kapataran sekarang. Ketika didengar oleh Walak Remboken bahwa saudara sesukunya diserang oleh pasukan Mongondow, maka majulah kepala walak Tarumetor bersama pemimpin-pemimpin yang lain: Kambil, Pakele, Sumoyop, Kawengian, Koagow, Sumarau, Kowaas dan Sendow ke Mangket, menghadapi pasukan Mongondow yang telah membangun pertahanan di Mangket. Tarumetor berhasil membunuh Ramokian dan laskar Remboken menang atas pasukan Mongondow.

Hal ini tidak menyurutkan dendam pihak Mongondow. Ketika Ratuwinangkang menjadi raja, maka dibawah panglima Ratuwangkang, yang adalah puteranya, ia memerangi tanah Malesung. Pada waktu inilah suku-suku di Malesung membentuk Serikat dengan mengadakan upacara adat di tempat-tempat peposanan. Menurut Dotulong, ada lima tempat di mana diadakan upacara adat itu, yaitu:
1. Touneroan;
2. Niaranan;
3. Pakewa;
4. Ro'ong-Wangko (Tourikeran=Toudano) dan
5. Di kaki Gunung Wulur-Ma'atus.
Dari peristiwa itu, maka lahirlah serikat persatuan suku-suku di Minahasa yang disebut dengan Minaesa yang berarti menjadi satu atau bersatu (dari kata esa= satu).

Raja Bolaang-Mongondouw kemudian datang memerangi tanah Malesung dengan lima pasukan:
Pasukan pertama dipimpin Ratuwinangkang menyerang Tombulu;
Pasukan kedua dipimpin Ratuwangkang menyerang Tondano, Kakas dan Remboken;
Pasukan ketiga dipimpin Romimpisan menyerang Tontemboan;
Pasukan keempat dipimpin Kuhiting menyerang Tonsea;
Pasukan kelima menyerbu Pulau Lembe dan Bangka.

Raja Bolaang-Mongondouw harus menelan kekalahan yang pahit. Di mana-mana mereka disambut dengan gagah berani oleh pasukan Minaesa. Pasukan mereka dikalahkan oleh Serikat sehingga tercerai berai. Mereka kemudian melakukan siasat gerilya yang banyak menimbulkan kerugian pada suku-suku di Minahasa. Mereka merampok dan membunuh. Setiap kali melakukan aksinya di wilayah salah satu suku, maka mereka akan bersembunyi di wilayah suku yang lain. Setiap suku di Minahasa menghormati batas-batas wilayahnya, sehingga selalu saja para gerilyawan itu dapat meloloskan diri.

Akhirnya Serikat pun memutuskan untuk menyerang secara serentak gerakan-gerakan gerilya di seluruh wilayah Minaesa, dan menuntaskannya supaya tidak lagi mengganggu kelangsungan hidup masyarakat. Dalam serangan itu, pemimpin-pemimpin dari masing-masing suku adalah:
Suku Tountemboan: Koemeang, Porong, Lampas, Waani;
Suku Tounsea: Lengkong Wuaya, Ramber;
Suku Toudano: Gerungan (Tondano), Wengkang (Kakas), Tarumetor, Pakele, Kambil, Kentur (Remboken);
Suku Toumbulu (Maiesu): Pelealu, Wangka, Tekelingan.

Dalam pertempuran itu gerombolan-gerombolan gerilya itu pun terusir jauh sampai ke tanah mereka sendiri, yaitu di seberang sungai Poigar. Demikianlah di dalam sejarah keturunan Toar Lumimuut lahir sebuah sejarah perserikatan yang disebut dengan Minaesa.

1 opmerking:

  1. Siapa ini Ratuwinangkang dengan putranya bernama Ratuwangkang???? Siapa yang menulis/menghadirkan tokoh fiktif (Ratuwinangkang) yang disebut dalam artikel di atas sebagai Raja Bolaang Mongondow??

    Tidak ada dalam sejarah kerajaan/raja2 Bolaang Mongondow bernama Ratuwinangkang dengan putranya bernama Ratuwangkang.
    Kecuali tokoh fiktif yang dihadirkan JGF Riedel seorang Belanda. Sebab ia tahu, Raja Bolaang Mongondow tidak ada yang bernama Ratuwinangkang dengan putranya bernama Ratuwangkang.

    AntwoordVee uit