Sondag 12 Mei 2013

MANGUNI MERUPAKAN MEDIA PETUNJUK ANTARA OPO EMPUNG DENGAN LELUHUR TOU MINAHASA



Awalnya bumi masih belum berbentuk dan kosong akhirnya sang pencipta yakni Allah atau tou minahasa menyebutnya dengan Si Makatana atau si Tuan Tana artinya sama halnya dengan si pemilik tanah yang lebih di kenal dengan sebutan OPO EMPUNG akhirnya menciptakan isi bumi dengan berbagai benda,tumbuhan dan mahluk hidup termasuk manusia yang di serahkan untuk menjaganya .Hal tersebut masuk sesuai pada hari ke 6 penciptaan Allah (Opo Empung) dan akhirnya Allah melihat semua isi ciptaannya sungguh amat baik adanya dan Allah menguduskannya . Dari pengertian tadi bahwa manusia hidup bukan hanya sendiri tetapi di beri oleh Allah bermacam-macam kelengkapan hidup yang intinya demi kelangsungan hidup atau mata rantai kehidupan yang saling mendukung dari satu ciptaanNya keciptaannya yang lain dan itulah kehendak Allah agar keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini tercipta.
            Pengertian di atas ternyata di dalam kehidupan ini Allah bermaksud bahwa dari setiap ciptaannya tidak lepas dari mata rantai tadi yang saling menunjang demi kelangsungan hidup masing-masing ciptaaannya termasuk mahluk yang di beri kuasa untuk menjaganya dan melebihi dari semua ciptaan yakni manusia.Dari peristiwa ini kita dapa melihat bahwa dalam kehidupan ini untuk mencapai kesinambungan hidup di perlukan suatu media atau yang menjembantani dari mata rantai kehidupan satu keberikutnya,itulah hidup.
            Tradisi adat Tou Minahasa ternyata tidak lepas dari permasalahan tadi dan kebisaan hidup saling berkesinambungan telah tertanam dalam jiwa mereka yakni semenjak leluhur Toar dan Lumimuut di zaman minahasa purba atau malesung dan hubungan batin dengan Opo Empung sebagai sang pencipta sangat dekatnya karena saat itu mereka tidak pernah bercelah atau melakukan dosa dan di anggap orang-orang suci waktu itu.Dalam kehidupan mereka tentu sangat mengandalkan apa yang sudah di sebut tadi yakni MEDIA yang merupakan suatu jembatan penyambung informasi antara Allah sebagai sang pencipta dengan mereka sebagai manusia. Dalam tradisi kepercayaan leluhur Tou Minahasa  yang kita dapat ambil contoh dan merupakan ada unsur kesamaan di atas adalah kepercayaan terhadap tanda-tanda bunyi makhluk hidup lainnya dalam hal ini binatang,hewan maupun burung-burung contohnya Burung Manguni yang di yakini burung pembawah kabar baik atau tidak di dalam perjalanan hidup mereka dan mereka meyakini tanda-tanda tersebut adalah benar yang berasal dari sang pencipta (Opo Empung). Dan kebiasaan tradisi mendengar tanda bunyi burung manguni telah di wariskan sampai kepada generasi zaman sekarang yang masih tetap di pelihara.Burung manguni bagi tou minahasa tentu tidak akan pernah lepas dari kehidupan sehari-hari dan bahkan sampai sekarang di pakai sebagai simbol tou minahasa.
           
            Pengertian nama burung manguni masih ada tou minahasa yang memperdebatkan dan sering terjadi perbedaan pendapat di masyarakat yang terkesan ada yang pro dan kontra. Masih ada yang menganggap bahwa Burung Manguni merupakan Burung Hantu hal ini adalah sangat  keliru burung manguni sebenarnya bukan burung hantu,karena nama burung hantu bukan berasal dari minahasa melainkan berasal dari luar . Orang luar minahasa menyebut dan memberi  nama burung hantu karena kehidupannya di malam hari dan raut matanya melotot terkesan seram seperti hantu maka dari itu di juluki sebagai burung hantu padahal tidak. Bagi tou minahasa BURUNG MANGUNI itulah nama aslinya,dan bukan Burung hantu.karena kalau disebut hantu tempatnya bukan di bumi ini tetapi di alam lain ,serta hantu tidak berdaging bahkan bertulang serta tidak kelihatan wujud fisik mereka.
Selain tradisi burung manguni tou minahasa juga sangat meyakini benda-benda merupakan ciptaan Tuhan sang pencipta sebagai MEDIA yang menjembatani  suatu informasi antara dengan ciptaannya manusia contohnya benda ciptaannya berupa bintang-bintang,bulan,bebatuan dan lain sebagainya.Bagi tou minahasa tradisi melihat bintang maupun bulan di yakini merupakan tanda Allah berupa petunjuk masa-masa,hari-hari,dan tahun-tahun dan juga member pertanda baik atau tidak bercocok tanam maupun mencari ikan di laut.Hal ini bila kita kaitkan dengan firman Tuhan pada alkitab ternyata sesuai dengan kitab Kejadian 1:14-15 serta kitab Matius 2:1-2 tentang tanda bintang di timur hal ini bintang merupakan sebagai perantara media petunjuk dari Allah kepada manusia.Bila kita mengamati ternyata tradisi leluhur tou minahasa dalam menerapkan hidup keseharian dengan mengandalkan tanda-tanda alam ternyata benar adanya dan sesuai apa yang tertulis pada firman Tuhan dalam Alkitab.Hubungan keimanan mereka dengan Tuhan yang mereka sebut Opo Empung tentu sangat dekat. Sikap tersebut merupakan ciri khas jati diri tou minahasa saat itu serta mereka belum terpengaruhi oleh hubungan dengan datangnya bangsa asing di tanah minahasa jadi benar-benar belum terkontaminasi budaya asing.Tradisi leluhur seperti ini masih ada tou minahasa yang tetap mempertahankan sampai di zaman sekarang karena mereka tahu dengan benar apa sebenarnya apa tradisi dari budaya mereka sendiri tersebut yang sudah di tanamkan di dalam diri mereka sejak kecil sampai dewasa namun tidak menutup kemungkinan sudah banyak pula yang sama sekali tidak perduli dengan tradisi adat budaya mereka akibat pengaruh zaman yang begitu pesatnya . Semoga Pemahaman tentang tradisi adat dan budaya tou minahasa tidak dapat di salah artikan dari kebenarannya dan dapat kita pertahankan demi keutuhan tanah adat minahasa di masa sekarang dan yang akan datang.
JAYA SELALU TOU MINAHASA !!!

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking