Vrydag 26 April 2013

OPO-OPO

 
Berikut tentang ‘opo-opo’ yang kini pengertiannya telah melenceng jauh dari arti yang sebenarnya, kini istilah opo-opo dianggap oleh sebagian besar generasi sekarang sebagai suatu perlakuan kerja sama antara roh-roh jahat dengan setan dari naraka.

Nenek moyang kita meskipun hidup dizaman batu, yang belum tersentuh ajaran agama atau budaya dari luar, tetapi sebagai machluk ciptaan Tuhan, seperti kita keturunannya juga telah dikaruniakan naluri dan kemampuan berpikir, kalau tidak, mana mungkin me-reka sanggup exist hidup dan berkembang hingga turun-temurun sampai abad 21 ini.

Para leluhur kita itu yakin bahwa manusia di bumi ini ada yang membuatnya dan me-reka tahu pula bahwa manusia terdiri dari tubuh fana dan roh yang tidak dapat mati, yang belum dipahaminya yaitu ajaran agama tentang adanya surga, naraka dan dosa, sehingga para leluhur kita berkeyakinan, roh orang mati akan tetap bergentayangan didunia. Yang pada masa hidupnya berperilaku baik menjadi roh atau opo yang baik, yang jahat akan tetap jahat. Pemahamannya bahwa ‘Opo Empung Wangko’ yang merajai semua Roh dan Opo telah menciptakan Opo baik dan Opo jahat dan para keturunan Toar-Lumimuut dapat memilih sesuai nurani mau jadi pengikut yang mana.
Seorang Tonaas dengan kemampuan mistiknya dapat berkomunikasi dengan opo-opo tersebut, ia sanggup memanggil roh opo masuk merasuk pada seorang ‘Pakampetan’
Semua yang hadir melalui Pakampetan dapat berkomunikasi dengan Opo-Opo, yang biasanya mula-mula memperkenalkan diri. Maka dari dialog tersebut kami dapat mengenal akan beberapa opo yang sakti(supra-natural), antara lain ‘Opo Siou Kurur’ karena badannya tinggi besar dan sanggup berjalan sangat cepat dijuluki ‘opo sembilan lutut’, berikut ‘Opo Don-dokambey’ dari Tonsea ke Watu Pinabetengan dengan menunggang kuda belang (bata-bata). Dan masyarakat Manado mengenal Opo Lolonglasut, Si Raja Wenang yang dina-makan ‘Tonaas Menandou’ (bahasa Tonsea, ‘menandou’ artinya ditempat jauh). Konon dahulu para leluhur dari Tonsea kalau hendak ke Wenang dengan roda sapi atau menung gang kuda, bila ditanya oleh bangsa pendatang (Belanda atau Portugis) apa nama tempat tujuan perjalanannya, oleh leluhur akan dijawab “menandou” yang diartikan oleh sipenanya bahwa kampung tujuan namanya “Menandou” kemudian disesuaikan dengan dialek orang barat “Menado’.
Sampai sekarang orang Minahasa bila hendak ke Manado akan berkata: ‘mange aki Wenang’ (Tonsea), ‘meros ti Wenang’ (Tombulu), ‘mae ki Wenang’ (Tondano). ‘mongem Wenang’ (Langoan), jadi sebenarnya Wenang adalah nama asli Kota Manado.
Kembali tentang Opo-Opo kita, dari generasi lebih muda antara lain yang dikenal sekitar pelabuhan Manado pada waktu itu ‘Opo Burik Muda’ si penggemar adu ayam, beliau salah satu anak buah Opo Lolonglasut dan masih banyak lagi Opo-Opo Sakti yang lain.
Dari Opo-Opo sakti melalui para Tonaas atau Pakampetan dapat diperoleh jimat-jimat berupa batu-batu cincin, jenis akar dll. yang dibungkus kain merah dan dilingkar pada pangkal lengan, paha dan pinggang untuk penangkal malapetaka, penyakit, kebal peluru, senjata tajam. Para Tonaas sanggup juga memanggil roh keluarga kita yang sudah me-ninggal dan si pakampetan yang kesurupan akan berperilaku dan suara yang sama de-ngan yang dipanggil. Namun sekarang ini, Tonaas dan Pakampetan sudah langkah, yang ada banyak yang munafik, hanya untuk popularitas atau maksud lain, mengaku sanggup mengobati semua penyakit luar dalam dan untuk meyakinkan publik dipakainya Kitab Suci sebagai media agar supaya tidak dituding iblis atau setan. Hal tersebut merusak image mengenai istilah ‘Opo-Opo’. Sekiranya ada ahli bahasa dan budaya Minahasa dapat meluruskan kembali dan merehabilitir arti kata luhur “Opo” pada proporsi sebe-narnya. (catatan : istilah ‘DOTU’ berasal bah.Melayu bukan asli Minahasa).

9 opmerkings:

  1. Sejarah asal Malontok.. bilang masyarakat Manado mengenal Opo Lolonglasut, Si Raja Wenang yang dina-makan ‘Tonaas Menandou’ (bahasa Tonsea, ‘menandou’ artinya ditempat jauh). Konon dahulu para leluhur dari Tonsea kalau hendak ke Wenang dengan roda sapi atau menung gang kuda, bila ditanya oleh bangsa pendatang (Belanda atau Portugis) apa nama tempat tujuan perjalanannya, oleh leluhur akan dijawab “menandou” yang diartikan oleh sipenanya bahwa kampung tujuan namanya “Menandou” kemudian disesuaikan dengan dialek orang barat “Menado’.

    Pertanyaan,
    Kenapa ada Dua Kembaran Nama yaitu MANADO yang ditambahkan kata “TUA” yang merujuk ke Pulau MANADO TUA dan MANADO yang saat ini disebut Kota MANADO??

    Sangat jelas bahwa Pulau MANADO TUA adalah Nama yang pertama kali masuk dalam Peta Dunia yang ditulis oleh seorang Kartografer yaitu Nicolas Deslin Tahun 1541.. dimana Pulau MANADO TUA oleh Bangsa Eropa yang pertama kali mendarat di Sulawesi Utara adalah Bangsa Portugis Tahun 1523.. bahkan sebelum masuk dalam Peta Dunia, Bangsa-bangsa Eropa telah mendengar Nama MANADO, sehingga pada saat Ekspedisi Bangsa Portugis mengarungi Laut Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Nahkoda Simao Da’Breu pada bulan Mei 1523, dalam ekspedisi ini Simao Da’Breu dilaporkan melihat Manado dalam hal ini Pulau Manado Tua.

    Dan Penemuan Pulau MANADO TUA dicatat Gubernur Portugis di Maluku ANTONIO GALVAO dalam bukunya yang berjudul TRATADO pada Tahun 1555 yang diuraikan dengan satu kalimat pendek: ‘Ouueram vista das ylhas de Manada…’ atau ‘Mereka melihat Pulau Manado.

    AntwoordVee uit
  2. Nama MANADO;

    Benarkah dari jendela Etimologi (Asal-usul Kata) bahwa istilah Nama MANADO adalah bentukan kata dasar bahasa Tombulu yaitu ARUR lalu menjadi WINAROR, lalu mengalami fase berbagai perubahan ucap hingga sampai pada kata MANAROU atau MANADOU yang kemudian menjadi MANADO?

    Atau dari bentukan kata bahasa Tontemboan yang membentuk kata MANAROW? atau adakah hubungan antara istilah (kata) nama MANADO dengan MAADON, nama suatu tempat di wilayah Minahasa Utara dan kini hanya menjadi sejarah yang merana karena lebih banyak dikisahkan dari mulut ke mulut?

    Dapatkah kita menerima keterangan Godee Molsbergen bahwa nama Pulau MANADO TUA mulanya disebut MANAROW (Suku Tontemboan) yang berarti sesuatu yang terletak di seberang; yaitu Pulau Batu atau Pulau Gunung.

    Atau Komentar dari Dr. GSSJ Ratulangi dalam Majalah INDIE 1917 yang diberi Judul "DE OORSPRONG VAN DEN NAAM MENADO", dimana dalam Majalah tersebut Dr. GSSJ Ratulangie menyebut bahwa Nama MANADO berasal dari Bahasa Jepang yaitu "MINATO"?

    AntwoordVee uit
  3. Dan memang diakui bahwa Bangsa Portugis lah yang pertama kali telah menggunakan istilah Nama MANADO pada sebuah Dokumen tertulis di Tahun 1623, dan istilah nama yang digunakan oleh Portugis, pun bukan bermaksud mengganti istilah Nama WENANG melainkan lebih merujuk pada Pengakuan dan Pengukuhan sebuah TERITORI dan sebuah UNION.

    MANADO itu tidak Identik dengan WENANG karena Nama WENANG sendiri berasal dari Nama jenis Pohon yang dalam Bahasa Latin disebut: MACARANGA HISPIDA.. dan Nama WENANG sendiri nanti dikenal oleh Orang Luar saat ditulis oleh J.G.F RIEDEL Tahun 1894 dalam Bukunya yang berjudul "“TOUMBULUSCHE PANTHEON”

    Justru ini yang harus di JAWAB..

    Bagaimana bisa Penemuan Pulau MANADO TUA yang dicatat Gubernur Portugis di Maluku ANTONIO GALVAO dalam bukunya yang berjudul TRATADO pada Tahun 1555 yang diuraikan dengan satu kalimat pendek: ‘Ouueram vista das ylhas de Manada…’ atau ‘Mereka melihat Pulau Manado.. apakah Suku TOMBULU (Suku Pedalaman yang tinggal diatas Gunung) yang menjadi Guide/Petunjuk Jalan bagi Bangsa Portugis pada saat berlayar dari Ternate menuju Perairan Sulawesi Utara??

    AntwoordVee uit
  4. Bagi Orang Minahasa, seputaran Nama MANADO punya banyak versi, jadi kita kembalikan saja kepada Suku/Orang atau Penduduk Maritim dari Pakasaan/Balok-Walak/Distrik MANADO yang tersebar di wilayah Calaca, Pondol, Makeret, Tokambena, Kampung Kodo dan Komo disebelah Selatan dan diutara yaitu Sindulang I-II, Bitung Karang Ria, Maasing, Tumumpa, Cempaka, Batu Saiki, Tongkaina serta Pulau Manado Tua, Bunaken, Siladen, Mantehage, Nain, Bangka, Talise dan ada juga kampung orang asing yaitu kampung Ternate dan Bajo.. sebagai “KLEIJNE MANADOSE GEMEENTE = Penghuni Kota Manado mula-mula” atau WARGA MANADO dari Suku/Etnis BORGO-BOBENTEHU, dimana:

    Kata "WARGA" dalam Bahasa Portugis adalah "MORADORES"..

    Dalam Dialek Spanyol menyebut MANADOS..

    Yang oleh Nicolas Graafland asal Belanda kemudian menyebut MANADOREZEN.

    Yang oleh Penduduk Lokal yang berprofesi sebagai Pelaut/Nelayan atau Suku Maritim yakni Suku/Etnis BORGO-BOBENTEHU yangkemudian menyebutnya MANADO.

    AntwoordVee uit
    Antwoorde
    1. hmm,, kita kira kalo kata Warga Bhs. Spanyol bilang Poblacion..

      pa kita ada buku N. Graafland. di situ ada peta Minahasa Kuno, daerah Manado adalah bagian dari Suku Kakaskasen yang menguasai hingga daerah Wori di utara dan Mandolang di Selatan.
      yang membuka Wanua Wenang pertama, sebab daerah itu merupakan tempat pembuatan garam oleh orang2 Tomohon tua, sehingga mereka sering "pergi jauh" dari kampung asal mereka.
      maka mereka mendirikan kampung Wenang (dari kata Mahawenang - pohon utk membuat kayu kolintang) krna dlu di sana ada byak pohon itu, kata Mahakeret (berteriak) dan kata Titiwungen (tampa ja gale akang)..

      kita penutur asli Tombulu, n mangarti Tonsea serta Tontemboan.

      kalu ngana punya sense of language di Bahasa Tombulu, ngana pasti mangarti kalo Manado itu aslinya penduduk Tombulu (Kakaskasen)..

      inga itu pepatah kuno Minahasa:
      tanu um pahkua ne tu'a pu'una sa' sera lumigaw "mange wisa ko?" wo wingkoten "mange witi Wenang, Wana Rou (manarou/manado)"
      (seperti kata2 orang tua dulu ketika bertanya: mau ke mana kamu? dan dijawab "pergi ke wenang, di tempat jauh"

      Vee uit
    2. nama Wanarou / Manarou yang pertama kali digunakan karena memang sebelum punya nama, orang2 gununglah yang pertama memakai nama itu dengan menyebut daerah tempat mereka membuat garam disebut dengan "di tempat yang jauh" tanpa ada nama.
      nanti setelah Tumani orang Kakaskasen yang dipimpin Opo Lolong Lasut barulah nama Wenang resmi sebagai nama sebuah kampung kecil saja, sedangkan wilayah luas itu dinamai daerah "yang di jauh" wanarou/manarou..

      orang Portugis bukan di-guide oleh orang2 gunung (Tombulu), sebab mereka datang menemukan daerah ini sendiri.

      dan bahasa pertama yang dikenal oleh penjajah yang pertama kali masuk di kota manado, jelas adalah bahasa Tombulu, bukan Babontehu.

      buktinya J.G.F. Riedel yang melayani di Tondano menulis buku Aasaren Tu'a Puuna ne Mahasa dalam Bah. Melayu dan Tombulu.

      Vee uit
    3. nama Maasing juga jelas menjadi bukti kata tombulu yang muncul yang artinya (membuat garam - maasin); kata Pondol artinya ujung..

      Vee uit
  5. btw, Tontemboan kalu mo bilang "mo pigi di jao" bukang "mange manarou" tapi "monge an tayang".. jadi tidak mungkin Tontemboan,
    sedangkan Tonsea justru sedikit lebih kentara dengan dialeknya yang menggunakan kata "mange mena dou' "..

    hmm,..

    sense of language juga perlu untuk meneliti sejarah. bukan hanya berdasarkan sumber2 tertulis..

    AntwoordVee uit
  6. Jendry Mandey:

    1. Poblacion itu artinya Populasi.

    2. buku N. Graafland yg ngana punya apa judulnya?

    3. Suku Kakaskasen turun dari Tomohon lewat Kinilow, Kamangta dan menetap di Ares Tikala kemudian mengembangkan wilayahnya sampai Wori di utara dan Mandolang di Selatan., tapi Negeri Manado sampai kira-kira Tahun 1830 hanya merupakan sebagian dari Calaca Barat dan wilayah Pelabuhan Manado dan sebelah Utara dari Pasar 45 sekarang dan Manado tidak identik dengan Wenang sebab nama Wenang sendiri mulai populer saat diperkenalkan oleh J.G.F Riedel dalam bukunya "Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu (Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa) oleh J.G.F. Riedel diterbitkan di Batavia tahun 1862, Buku setebal 55 halaman dan Johan Gerhard Frederich Riedel. Ia adalah anak tertua dari penginjil J.F. Riedel yang datang di Tanah Minahasa bersama-sama dengan J.G. Schwarz pada tahun 1831.

    4. Menurut Gubernur Jenderal Belanda yang berkedudukan di Ternate yaitu Dr. Robertus Padtbrugge di Manado pada tahun 1678 terdapat 3 (tiga) walak, yaitu walak Ares dari suku Tombulu dengan ibu kotanya adalah Tikala Ares, walak Manado dari suku Babontehu dengan ibu kotanya adalah Sindulang dan walak Klabat Bawah dari suku Tonsea dengan ibu kotanya adalah Komo.

    5. Wenang sendiri sebenarnya berada diwilayah Mandolang Tateli dimana nama Mandolang berasal dari kata Maodalan yang artinya kunjung-mengunjungi bertukar atau barter bahan makanan antara suku dipedalaman minahasa dalam hal ini Tombulu dan Totemboan dengan suku-suku pesisir dan pelaut yaitu Bobentehu dan Siau, dan Mandolang tersebut dimasa lalu juga disebut sebagai Tumpuhan Wenang atau Labuan Wenang.

    AntwoordVee uit