Perang Tondano adalah peristiwa heroik yang harus diketahui oleh setiap
orang Minahasa, terlebih khusus orang Tondano. Perang itu menunjukkan
jiwa kepahlawanan, keksatriaan, dan patriotisme para pejuang dan rakyat
Minahasa dalam menghadapi penindasan dan penjajahan orang-orang Belanda.
2
Beberapa hal menjadi alasan hadirnya tulisan ini:
1. Merupakan hal yang ironis bagi orang Minahasa, terlebih khusus orang
Tondano, jika ia tidak mengetahui tentang peristiwa bersejarah ini;
3
2. perlu adanya penjelasan tentang fakta sejarah Perang Tondano 1808-1809 menyangkut pemimpin-pemimpin perang, terutama para
teterusan (panglima perang) Korengkeng dan Sarapung;
4
3. bahwa nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan dari peristiwa
bersejarah itu mempunyai nilai yang tak terhingga untuk kita refleksikan
bagi pembangunan Minahasa pada umumnya, dan Tondano pada khususnya,
pada era (post)modern ini.
Secara garis besar tulisan ini tersusun sebagai berikut. Pertama-tama
saya memberi gambaran umum tentang riwayat Perang Tondano yang mencapai
klimaksnya pada tahun 1808-1809. Secara singkat saya menuliskan rentetan
peristiwa yang bermuara ke sejarah Minawanua
5 itu, dimulai
dari kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Minahasa, kemudian alasan-alasan
sampai timbul perang anti-kolonial paling dahsyat di Minahasa itu, dan
bagaimana akhir dari perjuangan tersebut. Pada bagian akhir tulisan ini,
saya menyajikan sebuah refleksi untuk kita renungkan bersama-sama
sebagai Tou Minahasa, terlebih khusus Tou Toudano, yang memegang amanah
budaya serta tongkat estafet pembangunan dan pemberdayaan Tou dan Tanah
Minahasa yang berjaya.
Bangsa-bangsa Barat mulai datang ke kepulauan Nusantara pada abad ke-16 diawali oleh Portugis
6
yang kemudian disusul oleh saingannya Spanyol. Pada tahun 1580 keduanya
dipersatukan di bawah pemerintahan raja Spanyol. Dalam suatu
persetujuan, pihak Spanyol diberikan hak untuk menempati Minahasa.
Spanyol menjadikan Minahasa sebagai pos logistik untuk kepentingan
mereka di Filipina dan Maluku. Mereka telah menguasai Kali yang
merupakan sumber beras, lalu mereka juga ingin memperoleh beras dari
orang-orang Tondano. Spanyol telah memperhitungkan bahwa akan sangat
merugikan jika mereka harus bertentangan dengan Walak Tondano. Mereka
menyadari bahwa Walak Tondano sangat keras menentang pengaruh dari luar
yang merugikan pihak mereka. Itu sebabnya Spanyol melakukan pendekatan
dengan menawarkan persamaan hak dengan Walak Tondano.
7
Seiring dengan penguasaan Spanyol terhadap perdagangan di Sulawesi
Utara, rakyat Minahasa mulai ditindas dan diperlakukan semena-mena.
Tindakan mereka menghina dan mengganggu rakyat, termasuk perlakuan
mereka terhadap wanita, telah membangkitkan perlawanan rakyat Minahasa
terhadap mereka.
8
Pada tahun 1643, seorang serdadu Spanyol menampar Opo’ Lumi, Ukung Tu’a Toumu’ung,
9 sampai jatuh karena ia menolak menerima Mainalo, seorang peranakan Spanyol-Tombulu, dijadikan raja di Minahasa.
10
Oleh karena perlakuan itu, malam itu juga Lumi mengumumkan perang
terhadap orang-orang Spanyol di wilayah Tombulu, serta memberitahukan
hal tersebut ke tiga suku lainnya: Tonsea, Tontemboan, dan Tondano. Maka
terjadilah pembunuhan dan penangkapan terhadap serdadu-serdadu Spanyol
di tanah Minahasa.
11 Orang-orang Minahasa yang telah muak
dengan tindakan orang-orang Spanyol merasa senang karena mereka berhasil
mengenyahkan orang-orang Spanyol yang suka memeras rakyat dan berbuat
sesuka hati itu. Akan tetapi, mereka juga menyadari bahwa Spanyol tidak
akan dengan mudah merelakan Minahasa.
Tahun 1651 Spanyol kembali muncul di Minahasa untuk mengambil beras di
Kali. Kehadiran mereka membuat cemas rakyat Minahasa, sekalipun perasaan
itu tak begitu kuat di Tondano. Walak Tondano membangun perkampungan
mereka di atas air. Mereka merancangnya untuk melindungi diri dari
serangan-serangan dari luar. Selain itu, Spanyol barangkali masih
menganggap Tondano sebagai mitra dagang mereka. Yang jelas, tindakan
Spanyol membunuh dua tonaas di Tataaran, telah menyakiti hati Walak
Tondano.
12
Pada waktu itu, Belanda merupakan kekuatan yang terus bersaing dengan
Spanyol untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah Nusantara. Berpikir
bahwa Belanda dapat memberikan bantuan kepada pihak Minahasa, pada tahun
1654, beberapa orang Minahasa berangkat ke Ternate untuk meminta
bantuan Belanda.
13 Ahirnya pada tahun 1657, Simon Cos,
pengganti Gubernur Hustaard, setelah berhasil meyakinkan Gubernur
Jenderal di Batavia akan posisi strategis Minahasa untuk kepentingan
Belanda, datang ke Minahasa dan mendirikan sebuah benteng di Manado.
Pada tahun 1659 Spanyol meninggalkan daerah Sulawesi Utara.
Para pemimpin Minahasa tentu saja berharap Belanda dapat menjadi sekutu
dalam hubungan yang saling menguntungkan. Namun nampaklah bahwa Belanda
juga tidak jauh berbeda dengan Spanyol, bahkan lebih parah. Rupanya
mereka tak hanya ingin menjadi sekutu dan rekan dalam perdagangan tetapi
juga penguasa yang semena-mena. Di mana-mana mulai terasa nafsu mereka
mencampuri urusan-urusan walak-walak di Minahasa. Sangat disayangkan,
ada juga kepala-kepala walak yang memang telah menggantungkan hidup
mereka sebagai kaki-tangan Kompeni dengan menghisap darah kawanua mereka
sendiri.
Kesewenang-wenangan Belanda terus mendatangkan penderitaan kepada banyak
sekali rakyat Minahasa. Mereka menuntut pemasukan beras sekalipun panen
tidak memuaskan. Mereka juga berlaku sesuka hati “hendak memaksakan
kehendak mereka kepada suku Tondano yang mencintai kebebasan.”
14 Tahun 1661 rakyat Tondano tidak bisa lagi menerima perlakuan tidak pantas itu, lalu menyatakan perang terhadap Belanda.
Orang-orang Belanda dengan dibantu oleh raja Manado datang menyerang orang-orang Tondano.
15
Mereka mengultimatum orang-orang Tondano untuk meninggalkan negeri
mereka yang dibangun di atas air, dan mengharuskan mereka menyerahkan
pemimpin-pemimpin mereka. Namun orang-orang Tondano tetap pada
pendiriannya, hal mana menampakan watak dan karakter mereka yang
mencintai kebebasan. Konon pasukan Tondano terdiri dari 1400 orang
dengan senjata tradisional, sementara Belanda dilengkapi dengan empat
buah perahu besar (kora-kora) dengan 65 serdadu. “Walaupun orang-orang
Tondano berperang laksana anoa dan kalawatan, mereka harus mengakui
keunggulan musuh.”
16 Senjata-senjata mereka terpaksa
diserahkan kepada Belanda, dan benteng mereka dirombak. Rumah-rumah
mereka di atas air kemudian dibakar.
17 Orang-orang Belanda menganggap bahwa Walak Tondano sudah benar-benar ditaklukkan.
Tahun 1677-1679 merupakan masa penaklukkan di Sulawesi Utara oleh Gubernur Maluku, Robertus Padtbrugge, dan Sultan Ternate.
18
Pada waktu inilah orang-orang Belanda mengadakan penandatanganan
kontrak dengan kerajaan-kerajaan di Nusa Utara, Gorontalo, Limboto, dan
republik Minahasa.
19 Kontrak antara V.O.C dan Minahasa
ditandatangani pada tahun 1679. Minahasa secara arbitrary diwakili oleh
kepala-kepala walak (ukung): Pa’at, Supit, dan Pedro Ranty, sedang V.O.C
diwakili oleh Padtbrugge.
20 Isi perjanjian itu adalah:
21
Minahasa berjanji :
1. mengakui V.O.C. sebagai tuannya untuk selama-lamanya.
2. akan membantu V.O.C.
3. akan memelihara Benteng Amsterdam di Manado dengan cuma-cuma.
4. akan membuat dan memelihara jembatan-jembatan dan pematang-pematang yang berguna bagi pemerintah V.O.C
5. akan berusaha mengadakan sebuah rumah kompeni yang luas serta gudang penyimpanan pakaian dan beras.
6. akan menyerahkan padi, yang setengah ditumbuk menjadi beras yang berkualitas.
V.O.C. berjanji :
1. melindungi semua kepala-kepala walak.
2. membebaskan Minahasa dari pajak.
3. tidak menuntut alat-alat kayu untuk diekspor,
4. kontrak ini berlaku juga untuk suku-suku Bantik, Tonsawang, Ponosakan dan Ratahan.
Lepas dari penafsiran perwakilan Minahasa yang menanda-tangani kotrak
itu, ternyatalah bahwa kotrak perjanjian ini tidak disetujui oleh rakyat
banyak, terutama mereka yang diperas habis-habisan untuk menyediakan
padi dan beras untuk keperluan V.O.C. yang kebanyakan adalah kaum tani
di pegunungan.
22 Memang pemasukan beras dari orang-orang
Tondano, termasuk Remboken dan Kakas Langowan sering kali tidak menuruti
keinginan Kompeni dan petugas-petugasnya. Mereka tetap tidak bersimpati
dengan Kompeni, sehingga mereka menjadi sasaran politik pecah belah dan
sindiran sinis dari para penulis Belanda.
23
Sampai tahun 1790, oleh hasil musyawarah rakyat, Pangalila, kepalawalak
Tondano Toulimambot, menghentikan perdagangan beras dengan kompeni. Hal
ini dikarenakan oleh panen yang kurang baik dan rakyat Tondano sendiri
kekurangan makanan.
24 Hal ini tentu saja dilihat sebagai
pembangkangan oleh pihak V.O.C., dan di Tondano rakyat juga sudah mulai
bersiap-siap dengan segala kemungkinan.
Pemimpin Belanda di Manado mulanya berpikir keras bagaimana mengatasi
masalah ini. Akhirnya mereka meminta Pangalila datang ke benteng Belanda
di Manado. Dengan beberapa alasan tipuan, Pangalila akhirnya bersedia
datang ke Nieuw Amsterdam menemui Resident Schierstein. Di benteng itu
ia ditangkap. Utusan yang lain yang ditugaskan untuk menyertai rombongan
Pangalila segera memberitahukan kepada rakyat Tondano tentang apa yang
telah terjadi. Amarah rakyat Tondano meluap-luap karena pemimpin yang
mereka cintai itu telah diambil dari tengah-tengah mereka dengan licik.
25
Sumondak, yang merupakan sahabat dari Pangalila,
26 bersama
rakyat Tondano mulai menyusun rencana untuk membalaskan dendam
Pangalila. Utusan-utusan dikirim ke walak-walak lainnya dengan pesan
untuk bersama-sama menghancurkan Belanda. Langowan, Tompaso, dan
Kawangkoan telah menetapkan hati mereka untuk berperang melawan Belanda.
Persiapan-persiapan perang sudah sedang diadakan, namun sayang rencana
itu bocor oleh karena pengkhianatan dari dalam. Belandapun memainkan
taktik liciknya sehingga perang tidak jadi dikobarkan. Orang-orang
Tondano dan rakyat Minahasa pada umumnya memendam sakit hati mereka.
27
Pada tahun 1793, George Frederik Durr ditunjuk sebagai Residen di Manado
menggantikan Schierstein. Masa tugasnya merupakan mimpi buruk bagi
kebanyakan rakyat Minahasa. Ia dikatakan “bajingan, perampok, buas, dan
terlalu mata duitan.”
28 Sekalipun masa tugasnya selesai pada 1802, keburukan pemerintahannya terus dirasakan sampai tahun 1825.
29
Ia melukai hati orang Minahasa tak hanya dengan kelakuannya, tetapi
juga dengan mengangkat Urbanus Matheos menjadi juru bahasa dan bahkan
digelari “Bapa orang Minahasa,” pada hal ia sangat tidak disukai oleh
kepala-kepala walak lainnya oleh karena kejahatan dan kelicikannya.
30 Ia juga dianggap bertanggung-jawab atas penyergapan Pangalila di benteng Belanda di Manado.
31
Bertumpuk-tumpuk penderitaan rakyat Minahasa oleh karena perlakukan
orang-orang Belanda dan para ukung yang telah menjual diri dan
rakyatnya. Rakyat Minahasa nyata-nyata mereka perlakukan dengan tidak
berperikemanusiaan. Untuk mendapatkan beras dengan harga murah, rakyat
dijejali dengan kain-kain atau bahan pakaian yang nantinya bisa dibayar
dengan beras. Ketika panen menghadapi kegagalan oleh berbagai-bagai
sebab, orang-orang Belanda dengan kejamnya menuntut pembayaran itu. Hal
ini semakin menambah dendam rakyat Minahasa terhadap Belanda.
32
Suasana di Minahasa sudah semakin memanas. Durr sendiri sudah menyadari
bahwa sikap rakyat Minahasa semakin antipatik terhadap Belanda. Terlebih
setelah ia ketahuan secara rahasia menyuruh membakar kampung Atep dan
Kapataran di Pantai Timur Tondano. Tidak berhenti di situ saja, setelah
melakukan pembakaran, para pesuruh Durr itu juga melakukan perampasan
dan menculik beberapa wanita yang dibawa lari ke Kema. Hal ini tidak
hanya dikecam Walak Tondano, tetapi juga walak-walak lainnya di
Minahasa.
33

Puncak dari segala kewenang-wenangan ini adalah ketika Gubernur Jenderal
Herman Willem Daendels memaksakan dua ribu pemuda Minahasa untuk
menjadi tentara Belanda guna mempertahankan kedudukan Belanda di pulau
Jawa dari serangan Inggris. Seluruh walak-walak di Minahasa menolak
memberikan pemudanya menjadi tentara Belanda, terlebih lagi walak
Tondano. Hal ini tentunya memancing reaksi keras dari pihak penjajah,
terutama dari Residen Prediger, pengganti Durr. Namun kali ini, rakyat
Minahasa tidak bisa lagi menerima perlakuan Belanda. Musyawarah para
pemimpin Minahasa yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 1808 di tempat
kediaman Matulandi di Tondano Touliang menghasilkan kesepakatan: tidak
lagi memasok beras secara sukarela kepada kompeni, tidak mau lagi
membiayai armada kora-kora karena perompakan masih terus berlangsung,
menolak melaksanakan pemeliharaan benteng Belanda di Manado, menolak
para pemuda Minahasa menjadi serdadu Belanda, dan menyatakan bahwa jika
Belanda hendak memaksakan kehendak, Minahasa akan mengangkat senjata
melawan Kompeni.
34 Kesepakatan ini ditetapkan dalam sebuah
upacara foso dengan mengangkat sumpah. Pada waktu itu, ukung Lontoh
(Tomohon-Sarongsong) memegang sagu-sagu (sejenis tombak), Mamait
(Remboken) menghunus parang, dan Matulandi (Tondano-Touliang) mengangkat
lelutam (senapan).
35
Setelah beberapa pertemuan lainnya terjadi, kembali di Pinawetengan
diadakanlah suatu musyawarah besar di mana perwakilan-perwakilan dari
Kakas, Sonder, Tompaso, Langouwan, Pasan, Ratahan, Ponosakan,
Tounsawang, Kakaskasen, Toumbulu, Sarongsong Rumoong, Hon, Tombasian dan
Tondano berkumpul. Oleh sebab Belanda telah memperalat beberapa
pemimpin Tonsea, walak ini tidak mengirimkan wakilnya secara
terang-terangan, sekalipun beberapa utusan dari Likupang, Talawaan, dan
Kema datang secara sembunyi-sembunyi. Remboken sendiri yang sepenuhnya
mendukung rencana itu tidak dapat mengirimkan wakilnya karena masalah
internal antara pemimpin walak yang sedang terjadi.
36
Setelah musyawarah itu, Tondano menjadi ramai dengan orang-orang yang
datang dari berbagai penjuru Minahasa dengan membawa berbagai bahan
keperluan perbentengan. Mereka menggali parit dan membangun benteng
dengan balok-balok besar serta kancingan-kancingan bambu yang sulit
dilewati.
37 Dua benteng di Tondano disebut Benteng Pa’pal,
yaitu dari arah Danau Tondano, dan yang lain di sebelah Barat
perkampungan Walak Tondano, disebut Moraya. Kepalawalak Korengkeng dan
kepalawalak Sarapung ditunjuk sebagai panglima perang, dibantu oleh
Tewu, Matulandi, Sumondak, Item, Walintukan, Komimbin, Rumapar, dll.
38
Prediger berusaha melakukan pendekatan-pendekatan kepada rakyat
Minahasa, baik secara persuasif maupun represif. Namun, pihak Minahasa
telah menetapkan tekad untuk memerangi orang-orang Belanda yang tidak
tahu diri itu. Akhirnya pada tanggal 14 Januari 1807, Prediger bergerak
untuk menyerang benteng Minahasa di Tondano. Sebagai pemimpin pasukan
Kapitein Hartingh dan dibantu oleh Wenderstijd, komandan pasukan Belanda
di Tanahwangko. Datanglah sejumlah besar serdadu, yang diantaranya juga
adalah orang-orang Minahasa yang ditugaskan oleh beberapa pemimpin
Minahasa yang telah ditipu oleh orang-orang Belanda untuk berpihak
kepada mereka.
39
Pengatur siasat perang pihak Minahasa juga tidak mau kalah strategi.
Situasi itu dimanfaatkan untuk memasukkan ke dalam pasukan musuh
mata-mata yang juga berfungsi untuk mencuri perbekalan dan amunisi.
Itulah sebabnya juga kepada seluruh waraney-waraney Minahasa yang sedang
bergerak dalam pasukan musuh diberikan kode. Ketika pasukan di benteng
Tondano hendak melancarkan tembakan-tembakan gencar ke arah pasukan
musuh, mereka memberi isyarat, “Rumungku’ se Maesa!”
40
Perlawanan Minahasa yang mencerminkan ke-Minaesa-an (persatuan) itu
sangat sulit dihadapi oleh Belanda. Sehingga mereka mulai berpikir
bagaimana cara untuk memecah belah persatuan itu. Mereka mulai membujuk
atau mengancam walak-walak lain supaya menarik dukungan mereka terhadap
Tondano.
41 Ukung Lontoh dari Saroinsong yang terkenal
berwatak keras dan pemberani menolak bekerja sama dengan Belanda. Lontoh
adalah seorang pemimpin yang punya integritas tinggi. Ia menolak
mengingkari sumpah perang dan bersama-sama Walak Tondano menghadapi
Belanda sampai akhir.
42
Belanda juga mendekati Walak Tondano, dengan harapan mereka akan
menyerah. Juni 1808, Prediger mengutus Wenderstijd untuk menemui
Korengkeng dan Sarapung, panglima perang Walak Tondano, tetapi mereka
dicegah para waraney di Masarang yang secara tegas menyampaikan
penolakan mereka terhadap kehadiran rombongan tersebut. Melihat upaya
pendekatannya gagal, seiring dengan meredanya perjuangan-perjuangan anti
Belanda di Ternate, maka panaslah hati Prediger untuk mendatangkan
pasukan dari Ternate untuk melindas pasukan Minahasa. Datanglah sejumlah
besar pasukan dari Ternate lengkap dengan peralatan perangnya.
Hal ini disikapi dengan serius oleh Minahasa, segera diadakan musyawarah
tentang bagaimana menghadapi perang dahsyat yang sudah berada di depan
mata. Pertemuan kembali diadakan di Pinawetengan. Beberapa hal menjadi
perhatian khusus dalam pertemuan itu. Beberapa walak, terutama yang jauh
dari Tondano atau berada dekat dengan perbentengan Belanda,
menyampaikan kesulitan mereka dan mengusulkan jikalau mungkin peperangan
dihentikan sementara untuk mengumpulkan bahan makanan dan mesiu. Walak
Tondano tidak melihat itu sebagai pilihan dan mendesak supaya
walak-walak lainnya tetap menjunjung tinggi sumpah perang yang telah
diikrarkan bersama. Karena tidak dapat dicapai kesepakatan yang
menyeluruh, maka ditetapkan bahwa:
43
1) walak Tondano akan tetap melanjutkan perlawanan apapun resikonya,
2) walak-walak yang sudah tidak sanggup untuk meneruskan peperangan,
supaya dapat memberi bantuan dalam pengadaan bahan makanan dan mesiu,
3) dan jikalau ada walak-walak yang tidak sanggup lagi untuk mendukung
perang ini, supaya jangan sampai bekerja sama dengan Belanda.
Hanya dalam hitungan beberapa bulan setelah pertemuan itu, tiga belas
walak menyampaikan keinginannya untuk bergabung dengan Prediger.
44
Ia tentu saja menyambutnya dengan gembira, tanpa memperhitungkan bahwa
ada di antara mereka masih tetap berada di pihak Tondano.
Penyerangan besar-besaran pun dipersiapkan. Prediger menganggap bahwa
dalam sekejap mata perlawanan Minahasa di Tondano akan segera ditumpas.
Namun perkiraan itu meleset jauh. Berbagai upaya untuk menembus
pertahanan Tondano tidak berhasil. Korban berjatuhan di kedua belah
pihak. Prediger tidak memperhitungkan bahwa laskar Tondano lebih
menguasai medan rawa-rawa yang penuh dengan jebakan-jebakan alam itu.
Belum lagi “hantu-hantu danau” yang menyiutkan hati serdadu-serdadu
Belanda. Hantu-hantu danau itu sebenarnya adalah perisai yang dibuat
dari pohon sagu dalam bentuk manusia, dibungkus dengan lumut dan tanaman
air. Pada malam hari perisai ini dibiarkan mengambang di permukaan air,
dan ketika sampai pada jarak tembak diangkat bersamaan dengan teriakan
perang. Strategi itu membuat jumlah dan moral serdadu Belanda merosot.
45
Akhirnya, dalam suatu penyerangan yang kesekian kalinya – masih dengan
hasil yang sama – Prediger sendiri terluka kepalanya dihantam mesiu
pihak Tondano. Ia kemudian digantikan oleh Jacob Herder, yang juga harus
mengakui keunggulan pihak Tondano dalam strategi dan perlengkapan
perang. Dalam laporannya ia menggambarkan bahwa “semangat tempur pasukan
perlawanan sangat tinggi dan mereka memiliki persenjataan yang tidak
kalah baiknya.”
46
Pada akhir bulan Juli 1809, Marinus Balfour menjadi residen di Manado.
Bersamanya tiba beratus-ratus serdadu bangsa Belanda dan pasukan Ternate
di bawah pimpinan Lodewijk Weintre yang berambisi segera mematahkan
perlawanan Minahasa di Tondano. Tanpa membuang-buang waktu, ia
menyiapkan pasukannya untuk menyerang benteng pertahanan Tondano.
Beratus-ratus perahu, rakit, dan sejumlah kora-kora penuh dengan
serdadu-serdadu bersenjata lengkap mengepung pertahanan Minahasa. Walak
Tondano bersama-sama dengan walak-walak lain yang tetap setia berpegang
pada sumpah sudah melihat dan membaca situasi yang mereka hadapi, namun
mereka tak tak tak merasa gentar sedikitpun. Satu-satunya yang menjadi
kekuatiran mereka adalah bahan makanan yang sudah semakin menipis,
karena jalur perbekalan telah dihadang oleh pasukan Belanda. Dalam
situasi itu, semangat juang para pahlawan Minahasa masih tetap sama!
Korengkeng dan Sarapung terus mengobarkan semangat pasukan Minahasa dan
rakyat Tondano.
Pada subuh tanggal 4 Agustus 1809 pasukan Weintre mulai menyerang
pertahanan pihak Tondano. Serangan yang tak pernah terjadi sebelumnya
“didahului dengan gempuran-gempuran meriam yang berdentum-dentum dan
bergema-gema tidak berkeputusan melanda serentak seluruh wilayah
pertahanan dan perkampungan walak Tondano.”
47 Suara bising dan menakutkan itu tak dapat membendung seruan heroik “I ayat un santi!”
48 Balasan tembakan dari pihak Tondano serta deru langkah serdadu-serdadu Minahasa yang juga terdapat sejumlah wanita
49
menyambut gelombang serangan yang seperti tak putus-putusnya dari pihak
musuh. Tak jarang terdengar, “Rumungku’ se Maesa!” Peperangan di danau
dan rawa-rawa berlangsung seru dan memiriskan hati. (Danau Tondano
menyambut darah putera-puteri Minahasa dan juga para pembunuh dan
penganiaya mereka, semoga kelak warnanya menjadi bening perdamaian.)
Kegigihan waraney-waraney pihak Tondano Minahasa berhasil mempertahankan
benteng dan wilayah pertahanan mereka. Sesekali serangan berani mati
dilancarkan ke wilayah pertahanan musuh secara sporadis, membuat pasukan
Weintre terkejut dan menderita kerugian.
Weintre yang telah terobsesi untuk melihat kehancuran pihak Tondano
menjadi semakin agresif. Pada malam hari ia merencanakan serangan ke dua
titik pertahan pihak Tondano, yaitu benteng Pa’pal dan Moraya.
Pertempuran dahsyat tak terhindarkan. Dengan membawa panas hati dan
kebencian yang berkobar-kobar Weintre masuk ke dalam pertahanan pihak
Tondano.
Pekik suara perang yang bersaing dengan dentuman meriam dan senjata api
itu kemudian berangsur-angsur menghilang bersama hembusan nafas terakhir
para pahlawan Minahasa; menjauh dalam langkah mereka yang memasuki
hutan-hutan belantara. Yang tertinggal di sana adalah suara tangisan
anak-anak dan ratapan ibu-ibu, tatapan mata tua yang basah oleh air
mata, keretak suara api memakan rumah-rumah dan tempat penyimpanan padi.
Ketika pagi tiba tempat itu telah menjadi sunyi. Hanya asap yang
menceritakan betapa dahsyat perjuangan itu serta harga yang telah
dibayarkan.
Ketika matahari terbit seperti tanpa rasa bersalah, benteng-benteng
pertahanan Tondano sudah hancur, perkampungan telah menjadi abu, dan air
Danau dan sungai-sungai di Tondano sejenak menjadi merah. Semuanya itu
menjadi tinta bagi materai keberanian dan semangat pantang menyerah
rakyat Tondano, rakyat Minahasa, yang telah berjuang demi kebanggaan dan
cita-cita mereka untuk hidup terhormat di tanah kelahirannya, tanah
nenek moyang mereka.
Bagi Walak Tondano itu bukan semata-mata kekalahan, itu adalah kekalahan
yang menunjukkan dirinya yang sejati dan harapannya bagi persatuan
Minahasa yang sejati. Akan tetapi, bagi Weintre itu adalah
kemenangannya. Dalam laporannya, ia menulis:
50
5-7 Agustus 1809…Temanku Balfour, Tondano telah mengalami nasibnya yang
naas pada tengah malam. Seluruh Tondano telah menjadi lautan api. Aku
harapkan tidak ada sisa lagi dari Tondano ini. Mereka yang tidak sempat
menyingkir itu terdiri dari orang tua yang sakit, wanita dan anak-anak.
Mereka yang selamat dari amukan api, dihabiskan nyawanya oleh
anggota-anggota pasukanku….yang penuh dengki dan haus darah, ingin
membalas kematian rekan-rekannya yang tewas dalam pertempuran sebelumnya
karena muntahan peluru orang-orang Tondano.
Saat menulis laporan ini, Tondano sudah menjadi tumpukan debu dan sama
sekali hancur. Sehari setelah kemenangan kami, aku memerintahkan
distrik-distrik (pakasaan-pakasaan) lain di Minahasa untuk membawa
masing-masing 200 orang agar dapat membantu menghancurkan apa yang masih
tersisa dan belum ditelan api, seperti kanon-kanon, tiang-tiang
palisade yang terpancang di sekeliling kubu pertahanan mereka. Segala
sesuatu, termasuk pepohonan, waruga-waruga aku suruh hancurkan agar
kelak tidak akan kelihatan bekas bahwa ditempat ini pernah ada pemukiman
orang-orang Tondano.
Alasanku melibatkan pakasaan-pakasaan dalam penghancuran sisa-sisa
perkampungan orang Tondano ini, adalah untuk memperingatkan mereka di
Minahasa akan nasib yang akan mereka alami bila berani menentang
kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Senjata-senjata yang dapat disita
masih kurang banyak. Dan aku duga orang-orang Tondano telah
menengelamkannya di danau. Selanjutnya aku akan mengejar
pemimpin-pemimpin mereka yang sempat mengundurkan diri ke hutan-hutan di
sekitar Kapataran….”
Tanggal 9 Agustus 1809 ia meneruskan laporan tersebut kepada atasannya
Gezaghebber de Moluccas Rudolf Coop a Groen di Ternate: “ … Orang-orang
Tondano yang congkak dan angkuh itu akhirnya dapat kita taklukkan.”
51
Bagi Weintre, keinginan untuk tidak dijajah dan dieksploitasi adalah
suatu tindakan yang congkak dan angkuh. Memang pihak Tondano telah
dikalahkan, namun dapatkan seorang dengan senjata apapun mengalahkan
keinginan untuk bebas dan merdeka?
Waraney-waraney Minahasa yang masih bertahan terus melakukan perang
gerilya di hutan-hutan. Panglima perang Korengkeng bersama-sama
Waworambitan (Rambitan), Lintang, Tampomalu, Pangau, Manueke bersama
yang lainnya bergerilya di sekitar Pegunungan Lembean sampai pantai
Timur Minahasa. Kelompok Matulandi dan Sumondak berangkat ke Kakas.
Sementar Sarapung, Tewu, Item, Lontoh serta rekan-rekan mereka terus
melakukan perlawanan di daerah sebelah Barat kota Tondano yang sekarang.
52
Beberapa waktu kemudian Tewu dan Lontoh tertangkap dan dibuang ke
Ternate. Item dan Sarapung dikabarkan meninggal di sekitar Tondano
karena sakit. Korengkeng dikatakan mempimpin perang gerilya yang paling
lama di hutan-hutan, sampai mereka dijuluki tou en talun (orang yang
tinggal di hutan).
53
Setelah Perang Tondano 1808-1809, orang-orang Tondano tersebar ke
berbagai penjuru di Minahasa. Tahun 1810 ketika keadaan mulai mereda
Hendrik Jacob Supit diberikan tugas oleh Residen Balfour untuk
mengumpulkan rakyat Tondano yang mengungsi dan yang bergerilya. Akan
tetapi, sebagian besar rakyat Tondano menolak untuk mengikuti ajakan
Belanda itu. Pada tahun 1812, terdengarlah kabar bahwa Inggris telah
mengambil alih kekuasaan Belanda di Minahasa. Untuk mengambil hati
rakyat Tondano, pemerintah Inggris membawa pulang Tewu dan Lontoh dari
Ternate ke Minahasa, serta membebaskan sejumlah besar tahanan di Tikala.
54 Rakyat Tondano pun bersedia untuk kembali.
Setelah melalui upacara “luminga ko’oko’,”
55 maka
ditentukanlah lokasi pemukiman Walak Tondano yang baru, yaitu di kiri
dan kanan Sungai Teberan (sekarang: Sungai Tondano). Pemerintah telah
melarang Walak Tondano membangun kembali perkampungan di tengah rawa,
sehingga tempat itu kemudian dikenal dengan Minawanua.