Sondag 12 Mei 2013

MANGUNI MERUPAKAN MEDIA PETUNJUK ANTARA OPO EMPUNG DENGAN LELUHUR TOU MINAHASA



Awalnya bumi masih belum berbentuk dan kosong akhirnya sang pencipta yakni Allah atau tou minahasa menyebutnya dengan Si Makatana atau si Tuan Tana artinya sama halnya dengan si pemilik tanah yang lebih di kenal dengan sebutan OPO EMPUNG akhirnya menciptakan isi bumi dengan berbagai benda,tumbuhan dan mahluk hidup termasuk manusia yang di serahkan untuk menjaganya .Hal tersebut masuk sesuai pada hari ke 6 penciptaan Allah (Opo Empung) dan akhirnya Allah melihat semua isi ciptaannya sungguh amat baik adanya dan Allah menguduskannya . Dari pengertian tadi bahwa manusia hidup bukan hanya sendiri tetapi di beri oleh Allah bermacam-macam kelengkapan hidup yang intinya demi kelangsungan hidup atau mata rantai kehidupan yang saling mendukung dari satu ciptaanNya keciptaannya yang lain dan itulah kehendak Allah agar keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini tercipta.
            Pengertian di atas ternyata di dalam kehidupan ini Allah bermaksud bahwa dari setiap ciptaannya tidak lepas dari mata rantai tadi yang saling menunjang demi kelangsungan hidup masing-masing ciptaaannya termasuk mahluk yang di beri kuasa untuk menjaganya dan melebihi dari semua ciptaan yakni manusia.Dari peristiwa ini kita dapa melihat bahwa dalam kehidupan ini untuk mencapai kesinambungan hidup di perlukan suatu media atau yang menjembantani dari mata rantai kehidupan satu keberikutnya,itulah hidup.
            Tradisi adat Tou Minahasa ternyata tidak lepas dari permasalahan tadi dan kebisaan hidup saling berkesinambungan telah tertanam dalam jiwa mereka yakni semenjak leluhur Toar dan Lumimuut di zaman minahasa purba atau malesung dan hubungan batin dengan Opo Empung sebagai sang pencipta sangat dekatnya karena saat itu mereka tidak pernah bercelah atau melakukan dosa dan di anggap orang-orang suci waktu itu.Dalam kehidupan mereka tentu sangat mengandalkan apa yang sudah di sebut tadi yakni MEDIA yang merupakan suatu jembatan penyambung informasi antara Allah sebagai sang pencipta dengan mereka sebagai manusia. Dalam tradisi kepercayaan leluhur Tou Minahasa  yang kita dapat ambil contoh dan merupakan ada unsur kesamaan di atas adalah kepercayaan terhadap tanda-tanda bunyi makhluk hidup lainnya dalam hal ini binatang,hewan maupun burung-burung contohnya Burung Manguni yang di yakini burung pembawah kabar baik atau tidak di dalam perjalanan hidup mereka dan mereka meyakini tanda-tanda tersebut adalah benar yang berasal dari sang pencipta (Opo Empung). Dan kebiasaan tradisi mendengar tanda bunyi burung manguni telah di wariskan sampai kepada generasi zaman sekarang yang masih tetap di pelihara.Burung manguni bagi tou minahasa tentu tidak akan pernah lepas dari kehidupan sehari-hari dan bahkan sampai sekarang di pakai sebagai simbol tou minahasa.
           
            Pengertian nama burung manguni masih ada tou minahasa yang memperdebatkan dan sering terjadi perbedaan pendapat di masyarakat yang terkesan ada yang pro dan kontra. Masih ada yang menganggap bahwa Burung Manguni merupakan Burung Hantu hal ini adalah sangat  keliru burung manguni sebenarnya bukan burung hantu,karena nama burung hantu bukan berasal dari minahasa melainkan berasal dari luar . Orang luar minahasa menyebut dan memberi  nama burung hantu karena kehidupannya di malam hari dan raut matanya melotot terkesan seram seperti hantu maka dari itu di juluki sebagai burung hantu padahal tidak. Bagi tou minahasa BURUNG MANGUNI itulah nama aslinya,dan bukan Burung hantu.karena kalau disebut hantu tempatnya bukan di bumi ini tetapi di alam lain ,serta hantu tidak berdaging bahkan bertulang serta tidak kelihatan wujud fisik mereka.
Selain tradisi burung manguni tou minahasa juga sangat meyakini benda-benda merupakan ciptaan Tuhan sang pencipta sebagai MEDIA yang menjembatani  suatu informasi antara dengan ciptaannya manusia contohnya benda ciptaannya berupa bintang-bintang,bulan,bebatuan dan lain sebagainya.Bagi tou minahasa tradisi melihat bintang maupun bulan di yakini merupakan tanda Allah berupa petunjuk masa-masa,hari-hari,dan tahun-tahun dan juga member pertanda baik atau tidak bercocok tanam maupun mencari ikan di laut.Hal ini bila kita kaitkan dengan firman Tuhan pada alkitab ternyata sesuai dengan kitab Kejadian 1:14-15 serta kitab Matius 2:1-2 tentang tanda bintang di timur hal ini bintang merupakan sebagai perantara media petunjuk dari Allah kepada manusia.Bila kita mengamati ternyata tradisi leluhur tou minahasa dalam menerapkan hidup keseharian dengan mengandalkan tanda-tanda alam ternyata benar adanya dan sesuai apa yang tertulis pada firman Tuhan dalam Alkitab.Hubungan keimanan mereka dengan Tuhan yang mereka sebut Opo Empung tentu sangat dekat. Sikap tersebut merupakan ciri khas jati diri tou minahasa saat itu serta mereka belum terpengaruhi oleh hubungan dengan datangnya bangsa asing di tanah minahasa jadi benar-benar belum terkontaminasi budaya asing.Tradisi leluhur seperti ini masih ada tou minahasa yang tetap mempertahankan sampai di zaman sekarang karena mereka tahu dengan benar apa sebenarnya apa tradisi dari budaya mereka sendiri tersebut yang sudah di tanamkan di dalam diri mereka sejak kecil sampai dewasa namun tidak menutup kemungkinan sudah banyak pula yang sama sekali tidak perduli dengan tradisi adat budaya mereka akibat pengaruh zaman yang begitu pesatnya . Semoga Pemahaman tentang tradisi adat dan budaya tou minahasa tidak dapat di salah artikan dari kebenarannya dan dapat kita pertahankan demi keutuhan tanah adat minahasa di masa sekarang dan yang akan datang.
JAYA SELALU TOU MINAHASA !!!

Vrydag 10 Mei 2013

Perang Tondano 1808-1809


Perang Tondano adalah peristiwa heroik yang harus diketahui oleh setiap orang Minahasa, terlebih khusus orang Tondano. Perang itu menunjukkan jiwa kepahlawanan, keksatriaan, dan patriotisme para pejuang dan rakyat Minahasa dalam menghadapi penindasan dan penjajahan orang-orang Belanda.2

Beberapa hal menjadi alasan hadirnya tulisan ini:

1. Merupakan hal yang ironis bagi orang Minahasa, terlebih khusus orang Tondano, jika ia tidak mengetahui tentang peristiwa bersejarah ini;3

2. perlu adanya penjelasan tentang fakta sejarah Perang Tondano 1808-1809 menyangkut pemimpin-pemimpin perang, terutama para teterusan (panglima perang) Korengkeng dan Sarapung;4

3. bahwa nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan dari peristiwa bersejarah itu mempunyai nilai yang tak terhingga untuk kita refleksikan bagi pembangunan Minahasa pada umumnya, dan Tondano pada khususnya, pada era (post)modern ini.

Secara garis besar tulisan ini tersusun sebagai berikut. Pertama-tama saya memberi gambaran umum tentang riwayat Perang Tondano yang mencapai klimaksnya pada tahun 1808-1809. Secara singkat saya menuliskan rentetan peristiwa yang bermuara ke sejarah Minawanua5 itu, dimulai dari kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Minahasa, kemudian alasan-alasan sampai timbul perang anti-kolonial paling dahsyat di Minahasa itu, dan bagaimana akhir dari perjuangan tersebut. Pada bagian akhir tulisan ini, saya menyajikan sebuah refleksi untuk kita renungkan bersama-sama sebagai Tou Minahasa, terlebih khusus Tou Toudano, yang memegang amanah budaya serta tongkat estafet pembangunan dan pemberdayaan Tou dan Tanah Minahasa yang berjaya.

Bangsa-bangsa Barat mulai datang ke kepulauan Nusantara pada abad ke-16 diawali oleh Portugis6 yang kemudian disusul oleh saingannya Spanyol. Pada tahun 1580 keduanya dipersatukan di bawah pemerintahan raja Spanyol. Dalam suatu persetujuan, pihak Spanyol diberikan hak untuk menempati Minahasa.

Spanyol menjadikan Minahasa sebagai pos logistik untuk kepentingan mereka di Filipina dan Maluku. Mereka telah menguasai Kali yang merupakan sumber beras, lalu mereka juga ingin memperoleh beras dari orang-orang Tondano. Spanyol telah memperhitungkan bahwa akan sangat merugikan jika mereka harus bertentangan dengan Walak Tondano. Mereka menyadari bahwa Walak Tondano sangat keras menentang pengaruh dari luar yang merugikan pihak mereka. Itu sebabnya Spanyol melakukan pendekatan dengan menawarkan persamaan hak dengan Walak Tondano.7

Seiring dengan penguasaan Spanyol terhadap perdagangan di Sulawesi Utara, rakyat Minahasa mulai ditindas dan diperlakukan semena-mena. Tindakan mereka menghina dan mengganggu rakyat, termasuk perlakuan mereka terhadap wanita, telah membangkitkan perlawanan rakyat Minahasa terhadap mereka.8

Pada tahun 1643, seorang serdadu Spanyol menampar Opo’ Lumi, Ukung Tu’a Toumu’ung,9 sampai jatuh karena ia menolak menerima Mainalo, seorang peranakan Spanyol-Tombulu, dijadikan raja di Minahasa.10 Oleh karena perlakuan itu, malam itu juga Lumi mengumumkan perang terhadap orang-orang Spanyol di wilayah Tombulu, serta memberitahukan hal tersebut ke tiga suku lainnya: Tonsea, Tontemboan, dan Tondano. Maka terjadilah pembunuhan dan penangkapan terhadap serdadu-serdadu Spanyol di tanah Minahasa.11 Orang-orang Minahasa yang telah muak dengan tindakan orang-orang Spanyol merasa senang karena mereka berhasil mengenyahkan orang-orang Spanyol yang suka memeras rakyat dan berbuat sesuka hati itu. Akan tetapi, mereka juga menyadari bahwa Spanyol tidak akan dengan mudah merelakan Minahasa.

Tahun 1651 Spanyol kembali muncul di Minahasa untuk mengambil beras di Kali. Kehadiran mereka membuat cemas rakyat Minahasa, sekalipun perasaan itu tak begitu kuat di Tondano. Walak Tondano membangun perkampungan mereka di atas air. Mereka merancangnya untuk melindungi diri dari serangan-serangan dari luar. Selain itu, Spanyol barangkali masih menganggap Tondano sebagai mitra dagang mereka. Yang jelas, tindakan Spanyol membunuh dua tonaas di Tataaran, telah menyakiti hati Walak Tondano.12

Pada waktu itu, Belanda merupakan kekuatan yang terus bersaing dengan Spanyol untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah Nusantara. Berpikir bahwa Belanda dapat memberikan bantuan kepada pihak Minahasa, pada tahun 1654, beberapa orang Minahasa berangkat ke Ternate untuk meminta bantuan Belanda.13 Ahirnya pada tahun 1657, Simon Cos, pengganti Gubernur Hustaard, setelah berhasil meyakinkan Gubernur Jenderal di Batavia akan posisi strategis Minahasa untuk kepentingan Belanda, datang ke Minahasa dan mendirikan sebuah benteng di Manado. Pada tahun 1659 Spanyol meninggalkan daerah Sulawesi Utara.

Para pemimpin Minahasa tentu saja berharap Belanda dapat menjadi sekutu dalam hubungan yang saling menguntungkan. Namun nampaklah bahwa Belanda juga tidak jauh berbeda dengan Spanyol, bahkan lebih parah. Rupanya mereka tak hanya ingin menjadi sekutu dan rekan dalam perdagangan tetapi juga penguasa yang semena-mena. Di mana-mana mulai terasa nafsu mereka mencampuri urusan-urusan walak-walak di Minahasa. Sangat disayangkan, ada juga kepala-kepala walak yang memang telah menggantungkan hidup mereka sebagai kaki-tangan Kompeni dengan menghisap darah kawanua mereka sendiri.

Kesewenang-wenangan Belanda terus mendatangkan penderitaan kepada banyak sekali rakyat Minahasa. Mereka menuntut pemasukan beras sekalipun panen tidak memuaskan. Mereka juga berlaku sesuka hati “hendak memaksakan kehendak mereka kepada suku Tondano yang mencintai kebebasan.”14 Tahun 1661 rakyat Tondano tidak bisa lagi menerima perlakuan tidak pantas itu, lalu menyatakan perang terhadap Belanda.



Orang-orang Belanda dengan dibantu oleh raja Manado datang menyerang orang-orang Tondano.15 Mereka mengultimatum orang-orang Tondano untuk meninggalkan negeri mereka yang dibangun di atas air, dan mengharuskan mereka menyerahkan pemimpin-pemimpin mereka. Namun orang-orang Tondano tetap pada pendiriannya, hal mana menampakan watak dan karakter mereka yang mencintai kebebasan. Konon pasukan Tondano terdiri dari 1400 orang dengan senjata tradisional, sementara Belanda dilengkapi dengan empat buah perahu besar (kora-kora) dengan 65 serdadu. “Walaupun orang-orang Tondano berperang laksana anoa dan kalawatan, mereka harus mengakui keunggulan musuh.”16 Senjata-senjata mereka terpaksa diserahkan kepada Belanda, dan benteng mereka dirombak. Rumah-rumah mereka di atas air kemudian dibakar.17 Orang-orang Belanda menganggap bahwa Walak Tondano sudah benar-benar ditaklukkan.

Tahun 1677-1679 merupakan masa penaklukkan di Sulawesi Utara oleh Gubernur Maluku, Robertus Padtbrugge, dan Sultan Ternate.18 Pada waktu inilah orang-orang Belanda mengadakan penandatanganan kontrak dengan kerajaan-kerajaan di Nusa Utara, Gorontalo, Limboto, dan republik Minahasa.19 Kontrak antara V.O.C dan Minahasa ditandatangani pada tahun 1679. Minahasa secara arbitrary diwakili oleh kepala-kepala walak (ukung): Pa’at, Supit, dan Pedro Ranty, sedang V.O.C diwakili oleh Padtbrugge.20 Isi perjanjian itu adalah:21

Minahasa berjanji :

1. mengakui V.O.C. sebagai tuannya untuk selama-lamanya.

2. akan membantu V.O.C.

3. akan memelihara Benteng Amsterdam di Manado dengan cuma-cuma.

4. akan membuat dan memelihara jembatan-jembatan dan pematang-pematang yang berguna bagi pemerintah V.O.C

5. akan berusaha mengadakan sebuah rumah kompeni yang luas serta gudang penyimpanan pakaian dan beras.

6. akan menyerahkan padi, yang setengah ditumbuk menjadi beras yang berkualitas.


V.O.C. berjanji :

1. melindungi semua kepala-kepala walak.

2. membebaskan Minahasa dari pajak.

3. tidak menuntut alat-alat kayu untuk diekspor,

4. kontrak ini berlaku juga untuk suku-suku Bantik, Tonsawang, Ponosakan dan Ratahan.


Lepas dari penafsiran perwakilan Minahasa yang menanda-tangani kotrak itu, ternyatalah bahwa kotrak perjanjian ini tidak disetujui oleh rakyat banyak, terutama mereka yang diperas habis-habisan untuk menyediakan padi dan beras untuk keperluan V.O.C. yang kebanyakan adalah kaum tani di pegunungan.22 Memang pemasukan beras dari orang-orang Tondano, termasuk Remboken dan Kakas Langowan sering kali tidak menuruti keinginan Kompeni dan petugas-petugasnya. Mereka tetap tidak bersimpati dengan Kompeni, sehingga mereka menjadi sasaran politik pecah belah dan sindiran sinis dari para penulis Belanda.23


Sampai tahun 1790, oleh hasil musyawarah rakyat, Pangalila, kepalawalak Tondano Toulimambot, menghentikan perdagangan beras dengan kompeni. Hal ini dikarenakan oleh panen yang kurang baik dan rakyat Tondano sendiri kekurangan makanan.24 Hal ini tentu saja dilihat sebagai pembangkangan oleh pihak V.O.C., dan di Tondano rakyat juga sudah mulai bersiap-siap dengan segala kemungkinan.

Pemimpin Belanda di Manado mulanya berpikir keras bagaimana mengatasi masalah ini. Akhirnya mereka meminta Pangalila datang ke benteng Belanda di Manado. Dengan beberapa alasan tipuan, Pangalila akhirnya bersedia datang ke Nieuw Amsterdam menemui Resident Schierstein. Di benteng itu ia ditangkap. Utusan yang lain yang ditugaskan untuk menyertai rombongan Pangalila segera memberitahukan kepada rakyat Tondano tentang apa yang telah terjadi. Amarah rakyat Tondano meluap-luap karena pemimpin yang mereka cintai itu telah diambil dari tengah-tengah mereka dengan licik.25

Sumondak, yang merupakan sahabat dari Pangalila,26 bersama rakyat Tondano mulai menyusun rencana untuk membalaskan dendam Pangalila. Utusan-utusan dikirim ke walak-walak lainnya dengan pesan untuk bersama-sama menghancurkan Belanda. Langowan, Tompaso, dan Kawangkoan telah menetapkan hati mereka untuk berperang melawan Belanda. Persiapan-persiapan perang sudah sedang diadakan, namun sayang rencana itu bocor oleh karena pengkhianatan dari dalam. Belandapun memainkan taktik liciknya sehingga perang tidak jadi dikobarkan. Orang-orang Tondano dan rakyat Minahasa pada umumnya memendam sakit hati mereka.27

Pada tahun 1793, George Frederik Durr ditunjuk sebagai Residen di Manado menggantikan Schierstein. Masa tugasnya merupakan mimpi buruk bagi kebanyakan rakyat Minahasa. Ia dikatakan “bajingan, perampok, buas, dan terlalu mata duitan.”28 Sekalipun masa tugasnya selesai pada 1802, keburukan pemerintahannya terus dirasakan sampai tahun 1825.29 Ia melukai hati orang Minahasa tak hanya dengan kelakuannya, tetapi juga dengan mengangkat Urbanus Matheos menjadi juru bahasa dan bahkan digelari “Bapa orang Minahasa,” pada hal ia sangat tidak disukai oleh kepala-kepala walak lainnya oleh karena kejahatan dan kelicikannya.30 Ia juga dianggap bertanggung-jawab atas penyergapan Pangalila di benteng Belanda di Manado.31

Bertumpuk-tumpuk penderitaan rakyat Minahasa oleh karena perlakukan orang-orang Belanda dan para ukung yang telah menjual diri dan rakyatnya. Rakyat Minahasa nyata-nyata mereka perlakukan dengan tidak berperikemanusiaan. Untuk mendapatkan beras dengan harga murah, rakyat dijejali dengan kain-kain atau bahan pakaian yang nantinya bisa dibayar dengan beras. Ketika panen menghadapi kegagalan oleh berbagai-bagai sebab, orang-orang Belanda dengan kejamnya menuntut pembayaran itu. Hal ini semakin menambah dendam rakyat Minahasa terhadap Belanda.32

Suasana di Minahasa sudah semakin memanas. Durr sendiri sudah menyadari bahwa sikap rakyat Minahasa semakin antipatik terhadap Belanda. Terlebih setelah ia ketahuan secara rahasia menyuruh membakar kampung Atep dan Kapataran di Pantai Timur Tondano. Tidak berhenti di situ saja, setelah melakukan pembakaran, para pesuruh Durr itu juga melakukan perampasan dan menculik beberapa wanita yang dibawa lari ke Kema. Hal ini tidak hanya dikecam Walak Tondano, tetapi juga walak-walak lainnya di Minahasa.33


Puncak dari segala kewenang-wenangan ini adalah ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memaksakan dua ribu pemuda Minahasa untuk menjadi tentara Belanda guna mempertahankan kedudukan Belanda di pulau Jawa dari serangan Inggris. Seluruh walak-walak di Minahasa menolak memberikan pemudanya menjadi tentara Belanda, terlebih lagi walak Tondano. Hal ini tentunya memancing reaksi keras dari pihak penjajah, terutama dari Residen Prediger, pengganti Durr. Namun kali ini, rakyat Minahasa tidak bisa lagi menerima perlakuan Belanda. Musyawarah para pemimpin Minahasa yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 1808 di tempat kediaman Matulandi di Tondano Touliang menghasilkan kesepakatan: tidak lagi memasok beras secara sukarela kepada kompeni, tidak mau lagi membiayai armada kora-kora karena perompakan masih terus berlangsung, menolak melaksanakan pemeliharaan benteng Belanda di Manado, menolak para pemuda Minahasa menjadi serdadu Belanda, dan menyatakan bahwa jika Belanda hendak memaksakan kehendak, Minahasa akan mengangkat senjata melawan Kompeni.34 Kesepakatan ini ditetapkan dalam sebuah upacara foso dengan mengangkat sumpah. Pada waktu itu, ukung Lontoh (Tomohon-Sarongsong) memegang sagu-sagu (sejenis tombak), Mamait (Remboken) menghunus parang, dan Matulandi (Tondano-Touliang) mengangkat lelutam (senapan).35

Setelah beberapa pertemuan lainnya terjadi, kembali di Pinawetengan diadakanlah suatu musyawarah besar di mana perwakilan-perwakilan dari Kakas, Sonder, Tompaso, Langouwan, Pasan, Ratahan, Ponosakan, Tounsawang, Kakaskasen, Toumbulu, Sarongsong Rumoong, Hon, Tombasian dan Tondano berkumpul. Oleh sebab Belanda telah memperalat beberapa pemimpin Tonsea, walak ini tidak mengirimkan wakilnya secara terang-terangan, sekalipun beberapa utusan dari Likupang, Talawaan, dan Kema datang secara sembunyi-sembunyi. Remboken sendiri yang sepenuhnya mendukung rencana itu tidak dapat mengirimkan wakilnya karena masalah internal antara pemimpin walak yang sedang terjadi.36

Setelah musyawarah itu, Tondano menjadi ramai dengan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Minahasa dengan membawa berbagai bahan keperluan perbentengan. Mereka menggali parit dan membangun benteng dengan balok-balok besar serta kancingan-kancingan bambu yang sulit dilewati.37 Dua benteng di Tondano disebut Benteng Pa’pal, yaitu dari arah Danau Tondano, dan yang lain di sebelah Barat perkampungan Walak Tondano, disebut Moraya. Kepalawalak Korengkeng dan kepalawalak Sarapung ditunjuk sebagai panglima perang, dibantu oleh Tewu, Matulandi, Sumondak, Item, Walintukan, Komimbin, Rumapar, dll.38

Prediger berusaha melakukan pendekatan-pendekatan kepada rakyat Minahasa, baik secara persuasif maupun represif. Namun, pihak Minahasa telah menetapkan tekad untuk memerangi orang-orang Belanda yang tidak tahu diri itu. Akhirnya pada tanggal 14 Januari 1807, Prediger bergerak untuk menyerang benteng Minahasa di Tondano. Sebagai pemimpin pasukan Kapitein Hartingh dan dibantu oleh Wenderstijd, komandan pasukan Belanda di Tanahwangko. Datanglah sejumlah besar serdadu, yang diantaranya juga adalah orang-orang Minahasa yang ditugaskan oleh beberapa pemimpin Minahasa yang telah ditipu oleh orang-orang Belanda untuk berpihak kepada mereka.39

Pengatur siasat perang pihak Minahasa juga tidak mau kalah strategi. Situasi itu dimanfaatkan untuk memasukkan ke dalam pasukan musuh mata-mata yang juga berfungsi untuk mencuri perbekalan dan amunisi. Itulah sebabnya juga kepada seluruh waraney-waraney Minahasa yang sedang bergerak dalam pasukan musuh diberikan kode. Ketika pasukan di benteng Tondano hendak melancarkan tembakan-tembakan gencar ke arah pasukan musuh, mereka memberi isyarat, “Rumungku’ se Maesa!”40

Perlawanan Minahasa yang mencerminkan ke-Minaesa-an (persatuan) itu sangat sulit dihadapi oleh Belanda. Sehingga mereka mulai berpikir bagaimana cara untuk memecah belah persatuan itu. Mereka mulai membujuk atau mengancam walak-walak lain supaya menarik dukungan mereka terhadap Tondano.41 Ukung Lontoh dari Saroinsong yang terkenal berwatak keras dan pemberani menolak bekerja sama dengan Belanda. Lontoh adalah seorang pemimpin yang punya integritas tinggi. Ia menolak mengingkari sumpah perang dan bersama-sama Walak Tondano menghadapi Belanda sampai akhir.42

Belanda juga mendekati Walak Tondano, dengan harapan mereka akan menyerah. Juni 1808, Prediger mengutus Wenderstijd untuk menemui Korengkeng dan Sarapung, panglima perang Walak Tondano, tetapi mereka dicegah para waraney di Masarang yang secara tegas menyampaikan penolakan mereka terhadap kehadiran rombongan tersebut. Melihat upaya pendekatannya gagal, seiring dengan meredanya perjuangan-perjuangan anti Belanda di Ternate, maka panaslah hati Prediger untuk mendatangkan pasukan dari Ternate untuk melindas pasukan Minahasa. Datanglah sejumlah besar pasukan dari Ternate lengkap dengan peralatan perangnya.

Hal ini disikapi dengan serius oleh Minahasa, segera diadakan musyawarah tentang bagaimana menghadapi perang dahsyat yang sudah berada di depan mata. Pertemuan kembali diadakan di Pinawetengan. Beberapa hal menjadi perhatian khusus dalam pertemuan itu. Beberapa walak, terutama yang jauh dari Tondano atau berada dekat dengan perbentengan Belanda, menyampaikan kesulitan mereka dan mengusulkan jikalau mungkin peperangan dihentikan sementara untuk mengumpulkan bahan makanan dan mesiu. Walak Tondano tidak melihat itu sebagai pilihan dan mendesak supaya walak-walak lainnya tetap menjunjung tinggi sumpah perang yang telah diikrarkan bersama. Karena tidak dapat dicapai kesepakatan yang menyeluruh, maka ditetapkan bahwa:43

1) walak Tondano akan tetap melanjutkan perlawanan apapun resikonya,

2) walak-walak yang sudah tidak sanggup untuk meneruskan peperangan, supaya dapat memberi bantuan dalam pengadaan bahan makanan dan mesiu,

3) dan jikalau ada walak-walak yang tidak sanggup lagi untuk mendukung perang ini, supaya jangan sampai bekerja sama dengan Belanda.

Hanya dalam hitungan beberapa bulan setelah pertemuan itu, tiga belas walak menyampaikan keinginannya untuk bergabung dengan Prediger.44 Ia tentu saja menyambutnya dengan gembira, tanpa memperhitungkan bahwa ada di antara mereka masih tetap berada di pihak Tondano.

Penyerangan besar-besaran pun dipersiapkan. Prediger menganggap bahwa dalam sekejap mata perlawanan Minahasa di Tondano akan segera ditumpas. Namun perkiraan itu meleset jauh. Berbagai upaya untuk menembus pertahanan Tondano tidak berhasil. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Prediger tidak memperhitungkan bahwa laskar Tondano lebih menguasai medan rawa-rawa yang penuh dengan jebakan-jebakan alam itu. Belum lagi “hantu-hantu danau” yang menyiutkan hati serdadu-serdadu Belanda. Hantu-hantu danau itu sebenarnya adalah perisai yang dibuat dari pohon sagu dalam bentuk manusia, dibungkus dengan lumut dan tanaman air. Pada malam hari perisai ini dibiarkan mengambang di permukaan air, dan ketika sampai pada jarak tembak diangkat bersamaan dengan teriakan perang. Strategi itu membuat jumlah dan moral serdadu Belanda merosot.45 Akhirnya, dalam suatu penyerangan yang kesekian kalinya – masih dengan hasil yang sama – Prediger sendiri terluka kepalanya dihantam mesiu pihak Tondano. Ia kemudian digantikan oleh Jacob Herder, yang juga harus mengakui keunggulan pihak Tondano dalam strategi dan perlengkapan perang. Dalam laporannya ia menggambarkan bahwa “semangat tempur pasukan perlawanan sangat tinggi dan mereka memiliki persenjataan yang tidak kalah baiknya.”46

Pada akhir bulan Juli 1809, Marinus Balfour menjadi residen di Manado. Bersamanya tiba beratus-ratus serdadu bangsa Belanda dan pasukan Ternate di bawah pimpinan Lodewijk Weintre yang berambisi segera mematahkan perlawanan Minahasa di Tondano. Tanpa membuang-buang waktu, ia menyiapkan pasukannya untuk menyerang benteng pertahanan Tondano. Beratus-ratus perahu, rakit, dan sejumlah kora-kora penuh dengan serdadu-serdadu bersenjata lengkap mengepung pertahanan Minahasa. Walak Tondano bersama-sama dengan walak-walak lain yang tetap setia berpegang pada sumpah sudah melihat dan membaca situasi yang mereka hadapi, namun mereka tak tak tak merasa gentar sedikitpun. Satu-satunya yang menjadi kekuatiran mereka adalah bahan makanan yang sudah semakin menipis, karena jalur perbekalan telah dihadang oleh pasukan Belanda. Dalam situasi itu, semangat juang para pahlawan Minahasa masih tetap sama! Korengkeng dan Sarapung terus mengobarkan semangat pasukan Minahasa dan rakyat Tondano.

Pada subuh tanggal 4 Agustus 1809 pasukan Weintre mulai menyerang pertahanan pihak Tondano. Serangan yang tak pernah terjadi sebelumnya “didahului dengan gempuran-gempuran meriam yang berdentum-dentum dan bergema-gema tidak berkeputusan melanda serentak seluruh wilayah pertahanan dan perkampungan walak Tondano.”47 Suara bising dan menakutkan itu tak dapat membendung seruan heroik “I ayat un santi!”48 Balasan tembakan dari pihak Tondano serta deru langkah serdadu-serdadu Minahasa yang juga terdapat sejumlah wanita49 menyambut gelombang serangan yang seperti tak putus-putusnya dari pihak musuh. Tak jarang terdengar, “Rumungku’ se Maesa!” Peperangan di danau dan rawa-rawa berlangsung seru dan memiriskan hati. (Danau Tondano menyambut darah putera-puteri Minahasa dan juga para pembunuh dan penganiaya mereka, semoga kelak warnanya menjadi bening perdamaian.) Kegigihan waraney-waraney pihak Tondano Minahasa berhasil mempertahankan benteng dan wilayah pertahanan mereka. Sesekali serangan berani mati dilancarkan ke wilayah pertahanan musuh secara sporadis, membuat pasukan Weintre terkejut dan menderita kerugian.

Weintre yang telah terobsesi untuk melihat kehancuran pihak Tondano menjadi semakin agresif. Pada malam hari ia merencanakan serangan ke dua titik pertahan pihak Tondano, yaitu benteng Pa’pal dan Moraya. Pertempuran dahsyat tak terhindarkan. Dengan membawa panas hati dan kebencian yang berkobar-kobar Weintre masuk ke dalam pertahanan pihak Tondano.

Pekik suara perang yang bersaing dengan dentuman meriam dan senjata api itu kemudian berangsur-angsur menghilang bersama hembusan nafas terakhir para pahlawan Minahasa; menjauh dalam langkah mereka yang memasuki hutan-hutan belantara. Yang tertinggal di sana adalah suara tangisan anak-anak dan ratapan ibu-ibu, tatapan mata tua yang basah oleh air mata, keretak suara api memakan rumah-rumah dan tempat penyimpanan padi. Ketika pagi tiba tempat itu telah menjadi sunyi. Hanya asap yang menceritakan betapa dahsyat perjuangan itu serta harga yang telah dibayarkan.

Ketika matahari terbit seperti tanpa rasa bersalah, benteng-benteng pertahanan Tondano sudah hancur, perkampungan telah menjadi abu, dan air Danau dan sungai-sungai di Tondano sejenak menjadi merah. Semuanya itu menjadi tinta bagi materai keberanian dan semangat pantang menyerah rakyat Tondano, rakyat Minahasa, yang telah berjuang demi kebanggaan dan cita-cita mereka untuk hidup terhormat di tanah kelahirannya, tanah nenek moyang mereka.

Bagi Walak Tondano itu bukan semata-mata kekalahan, itu adalah kekalahan yang menunjukkan dirinya yang sejati dan harapannya bagi persatuan Minahasa yang sejati. Akan tetapi, bagi Weintre itu adalah kemenangannya. Dalam laporannya, ia menulis:50

5-7 Agustus 1809…Temanku Balfour, Tondano telah mengalami nasibnya yang naas pada tengah malam. Seluruh Tondano telah menjadi lautan api. Aku harapkan tidak ada sisa lagi dari Tondano ini. Mereka yang tidak sempat menyingkir itu terdiri dari orang tua yang sakit, wanita dan anak-anak. Mereka yang selamat dari amukan api, dihabiskan nyawanya oleh anggota-anggota pasukanku….yang penuh dengki dan haus darah, ingin membalas kematian rekan-rekannya yang tewas dalam pertempuran sebelumnya karena muntahan peluru orang-orang Tondano.

Saat menulis laporan ini, Tondano sudah menjadi tumpukan debu dan sama sekali hancur. Sehari setelah kemenangan kami, aku memerintahkan distrik-distrik (pakasaan-pakasaan) lain di Minahasa untuk membawa masing-masing 200 orang agar dapat membantu menghancurkan apa yang masih tersisa dan belum ditelan api, seperti kanon-kanon, tiang-tiang palisade yang terpancang di sekeliling kubu pertahanan mereka. Segala sesuatu, termasuk pepohonan, waruga-waruga aku suruh hancurkan agar kelak tidak akan kelihatan bekas bahwa ditempat ini pernah ada pemukiman orang-orang Tondano.

Alasanku melibatkan pakasaan-pakasaan dalam penghancuran sisa-sisa perkampungan orang Tondano ini, adalah untuk memperingatkan mereka di Minahasa akan nasib yang akan mereka alami bila berani menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Senjata-senjata yang dapat disita masih kurang banyak. Dan aku duga orang-orang Tondano telah menengelamkannya di danau. Selanjutnya aku akan mengejar pemimpin-pemimpin mereka yang sempat mengundurkan diri ke hutan-hutan di sekitar Kapataran….”
Tanggal 9 Agustus 1809 ia meneruskan laporan tersebut kepada atasannya Gezaghebber de Moluccas Rudolf Coop a Groen di Ternate: “ … Orang-orang Tondano yang congkak dan angkuh itu akhirnya dapat kita taklukkan.”51 Bagi Weintre, keinginan untuk tidak dijajah dan dieksploitasi adalah suatu tindakan yang congkak dan angkuh. Memang pihak Tondano telah dikalahkan, namun dapatkan seorang dengan senjata apapun mengalahkan keinginan untuk bebas dan merdeka?

Waraney-waraney Minahasa yang masih bertahan terus melakukan perang gerilya di hutan-hutan. Panglima perang Korengkeng bersama-sama Waworambitan (Rambitan), Lintang, Tampomalu, Pangau, Manueke bersama yang lainnya bergerilya di sekitar Pegunungan Lembean sampai pantai Timur Minahasa. Kelompok Matulandi dan Sumondak berangkat ke Kakas. Sementar Sarapung, Tewu, Item, Lontoh serta rekan-rekan mereka terus melakukan perlawanan di daerah sebelah Barat kota Tondano yang sekarang.52

Beberapa waktu kemudian Tewu dan Lontoh tertangkap dan dibuang ke Ternate. Item dan Sarapung dikabarkan meninggal di sekitar Tondano karena sakit. Korengkeng dikatakan mempimpin perang gerilya yang paling lama di hutan-hutan, sampai mereka dijuluki tou en talun (orang yang tinggal di hutan).53

Setelah Perang Tondano 1808-1809, orang-orang Tondano tersebar ke berbagai penjuru di Minahasa. Tahun 1810 ketika keadaan mulai mereda Hendrik Jacob Supit diberikan tugas oleh Residen Balfour untuk mengumpulkan rakyat Tondano yang mengungsi dan yang bergerilya. Akan tetapi, sebagian besar rakyat Tondano menolak untuk mengikuti ajakan Belanda itu. Pada tahun 1812, terdengarlah kabar bahwa Inggris telah mengambil alih kekuasaan Belanda di Minahasa. Untuk mengambil hati rakyat Tondano, pemerintah Inggris membawa pulang Tewu dan Lontoh dari Ternate ke Minahasa, serta membebaskan sejumlah besar tahanan di Tikala.54 Rakyat Tondano pun bersedia untuk kembali.


Setelah melalui upacara “luminga ko’oko’,”55 maka ditentukanlah lokasi pemukiman Walak Tondano yang baru, yaitu di kiri dan kanan Sungai Teberan (sekarang: Sungai Tondano). Pemerintah telah melarang Walak Tondano membangun kembali perkampungan di tengah rawa, sehingga tempat itu kemudian dikenal dengan Minawanua.

Donderdag 09 Mei 2013

Cerita LegendaTumetenden



Airmadidi /Kumelembuai adalah bagian dari wilayah etnis Tonsea dan letak geografis berada pada wilayah Minahasa Utara-Sulawesi utara
Cerita Legenda Tumetenden bersumber dari para leluhur Tou Tonsea yang berpusat di-Airmadidi Bawah.
Mengisahkan seorang petani yang tinggal dikaki gunung tamporok/klabat. gagah,rajin,dan bersahaja,mempersunting seorang wanita cantik nan jelita yang turun dari khayangan.
Singkat cerita berawal Seorang pemuda hidup dikaki gunung Tamporok/klabat karena sering rusaknya perkebunan  milik pria gagah (Mamanua)timbul firasat yang mana ada sosok lain yang sering datang diarea perkebunannya untuk mandi di Telaga ( Tumetenden) miliknya,sebab area tebu disalah satu perkebunannya ada  yang rusak yang terdapat dipinggir telaga.pada suatu saat dia beristirat, sejenak dari kejauhan dia mendengar sepertinya ada keributan diarea telaga (tumetenden)miliknya, selangkah demi selangkah diam2 dia(mamanua) menyusuri perkebunan tebu, dengan sangat berhati2.
betapa terkejutnya ia(mamanua)ketika didapati ada sekelompok wanita seperti bidadari,sebab paras wajahnya sangatlah cantik bagai bidadari,jumlah mereka ada 9 orang.
Awalnya mamanua beranggapan mungkin sekelompok burung,rupa2nya 9 putri bidadari yang turun dari khayangan untuk mandi ditelaga Tumetenden,sebenarnya telaga tersebut belum dinamai setelah cerita tersebut tersebar luas ,barulah masyarakat menamai telaga tersebut dengan nama Tumetenden.ketertarikan akan paras cantik ke 9 putri bidadari,maka timbullah hasrat untuk mempersunting salah satu dari ke sembilan putri tersebut. kemudian mamanua mendapatkan ide/strategi untuk menghalangi agar salah satu dari 9 putri tidak pergi meninggalkannya. diam2 sambil menyusup dibebatuan, Mamanua merengangkan tangannya menarik sepotong bambu dibalik bebatuan untuk mengambil  satu gaun milik salah satu putri tersebut.setelah jauh dari area telaga Tumetenden Mamanua bersembunyi dibalik pohon besar seraya menunggu putri2 tersebut selesai mandi.
Betapa kagetnya salah satu putri didapati gaunnya hilang entah kemana,lama ia mencari kesana-kemari akhirnya ia ditinggal pergi oleh saudara2nya.Betapa sedihnya sang putri seraya menagis ia mencari gaunnya sampai kesungai yang besar,Mamanua dari kejauhan mengikutinya dan setelah lama berlalu Mamanua tidak tega melihat kesedihan sang Putri lalu didekatilah sang putri seraya memberitahukan bila mana ia telah lancang mengambil gaun miliknya namun bukan maksud jahat tapi ia ingin sang putri tinggal bersamanya sebab mamanua sangat mencintainya dan ingin menjadi istrinya.
Niat baik mamanua disambut juga oleh sang putri namun sang putri mengutarakan bilamana ia jadi istrinya ada satu pantangan/syarat yang mamanua harus taati syarat.
Jika mamanua melanggar syarat tersebut orang tua dari putri kayangan akan mengetahui keberadaan putri tersebut dan harus pulang kenegrinya dikayangan. syarat yang diajukan putri adalah jangan sampai ada satu helai rambut yang tercabut dari kepala putri.Karena cintanya kepada putri begitu besar Mamanua menyanggupi syarat yang diajukan sang putri.
Akhirnya mereka menjadi pasangan suami istri yang bahagia, oleh Mamanua putri tersebut dinamai Lumalundung
Dari hasil sebuah pernikahan dengan putri(lumalundung)lahirlah sosok mungil yang lucu dan diberi nama oleh Mamanua yaitu Walangsendou.Betapa bahagianya mereka setelah memiliki anak Walangsendou,dan betapa cintanya Mamanua terhadap istrinya Lumalundung sampai2 ia tidak ingin jika Lumalundung rambutnya tidak bersih dan rapih, Mamanua senantiasa membelai rambut Lumalundung dan menyisirnya.
Namun suatu ketika peteka menyelimuti keluarga Mamanua akibat kecerobohannya, takkalah ketika ia menyisir Lumalundung,didapati seutas rambut Lumalundung tercabut, sedih bukan kepalang menyelimuti Lumalundung ketika itu ..
dan Mamanua bingung entah apa yang akan dia lakukan sebab kesalahan yang besar telah ia perbuat. Sedih yang mendalam dihati Lumalundung takkala ia harus meninggalkan buah hasih cintanya dengan Mamanua,tangisan dan ratapan Lumalundung makin membuat Mamanua tak bisa bergeming…Mamanua sambil menengadah kelangit memohon ampunan sambil terisak2 memohon agar Lumalundung jangan Meninggalkan ia dan Walangsendou. Mamanua memohon belas kasihan Lumalundung sebab Walangsendow masih kecil dan butuh kasih sayang Ibunya. Sambil menangis terisak2 Lumalundung Memohon sekiranya jika Walangsendou menangis bawalah ia pergi ketempat ia tinggal dengan mengikuti arah Matahari.
Pada akhirnya Lumalundung berpamitan kepada Mamanua lalu pergi terbang meninggalkan Mamanua dan anaknya Walangsendou seraya menangis tersedu-sedu.
Hari2 sepi kelam dan sedih dilalui oleh Mamanua, ia selalu teringat akan istrinya yang ia sangat cintai sambil memeluk anaknya Walangsendou.
setiap saat Mamanua teringat wajah Lumalundung dan berharap agar Lumalundung pulang dan ia merasa sedih takkalah melihat walangsendou yang ditinggalkan ibunya.
Kecintaannya yang mendalam setiap saat hinggap dihatinya.
Suatu ketika Walangsendou menangis terseduh-seduh meratap,menginginkan kehadiran ibunya Lumalundung seketika itupun Mamanua menggendong walangsendou dan pergi meninggalkan tempat tinggalnya untuk menemui Lumalundung.
Berjalan jauh melintasi hutan,gunung,sungai guna menuju arah matahari seperti yang diutarakan Lumalundung,setelah jauh didapati laut yang luas.
ada seekor ikan yang memberikan jasanya untuk ditumpangi nama ikan tersebut adalah Pongkor.
singkat cerita setelah sampai ditempat tujuan ia dan Walangsendou dihadang oleh pengawal istana dan mamanua mengutarakan maksud dan tujuannya itu kepada raja untuk dipertemukan kepada istrinya dan ibu dari anaknya.
setela menyetujui maksud kedatangan Mamanua,Raja itupun memanggil putri2 tersebut.
datanglah ke 9 putri untuk menemui Mamanua, Mamanua sempat bingung dikarenakan ke 9 putri tersebut berparas muka sama
dia berpikir bagaimana cara untuk mengetahui yang mana sala satu adalah istrinya.
dijumpailah seekor binatang lalat untuk membantunya menelusuri siapakah 1 diantara 9 putri adalah istrinya Lumalundung?
seusai kesepakatan, Lalat tersebut mulai memilih satu persatu lalu dia hinggap ditubuh putri Lumalundung
sang rajapun mengakui bilamana sang putri adalah yang Lumalundung yang bertahun2 tidak pulang keistana.
Hari yang penuh kebahagiaan saat itu mereka dipertemukan,betapa bahagianya Mamanua takkala ia dan istri kesayangannya Dipertemukan.
isak tangis kebahagiaanpun dialami Lumalundung seraya menemui anaknya Walangsendou yang sudah lama ia nanti2kan.
akhirnya cita2 Mamanua dan Lumalundung untuk tetap bersatu terwujud kembali dan mereka menjadi keluarga istana yang berbahagia sampai akhir hayat.

Dinsdag 07 Mei 2013

Cerita Legenda Pingkan Matindas


Cerita itu sendiri berrmula dari suatu daerah bernama Mandolang (kemungkinan antara Tanawangko dan Manado, sekarang), sekitar abad ke 16
Di daerah itu ada seorang gadis yang sangat cantik parasnya, yang bernama Pingkan Mogogunoi Lumeno. Disamping sangat cantik, Pingkan juga terkenal cerdas dan baik hati, sehingga banyak lelaki (tuama) yang tergila-gila kepadanya.
Namun sayang seribu sayang, diusianya yang masih tergolong remaja, Pingkan jatuh sakit. Sakit yang diderita Pingkan pada saat itu adalah penyakit yang sulit diobati. Tentunya hal ini membuat orang tuanya kebingungan dan panik.
Adalah seorang pemuda gagah dari Rano i Tolang yang datang ke rumah Pingkan untuk mengobatinya. Dengan penampilan yang gagah dan meyakinkan, pemuda itu mulai mengobati Pingkan. Keraguan orang tua Pingkan atas kesembuhan anak mereka, berangsur hilang. Pemuda itu tidak lain selain Makaware Matindas .
Alhasil, seiring waktu berjalan maka, sembuhlah Pingkan dari sakitnya. Dan karena jasa Makaware Matindas itulah maka, kedua orang tua Pingkan menyetujui hubungan mereka dan mereka berdupun saling jatuh cinta hingga akhirnya menikah.
Pekerjaan Matindas adalah nelayan dan juga Petani sehingga karena pekerjaannya itu dia sering pergi meninggalkan Pingkan istrinya untuk mencari ikan bersama teman-temannya di laut. Matindas adalah sosok laki-laki yang baik, rajin, pandai, setia dan bertanggung jawab. Namun, Matindas merasa kesulitan untuk berpisah lama dengan istrinya. Dia tidak tahan meninggalkan Pingkan istrinya yang cantik itu di rumah.
Karena kepandaiannyalah maka dibuatnya patung yang sama persis dengan istrinya. Manakala Matindas pergi melaut maka, patung itupun dibawa serta sebagai pengganti sosok istrinya.
Patung yang dibuat Matindas itu akhirnya hilang pada waktu dia melaut. Saat itu ombak besar menghantam perahu Matindas sehingga dia tidak sempat menyelamatkan patung itu. Patung yang terbuat dari kayu itu ditemukan di pesisir pantai oleh Prajurit/Anak Buah Raja Mongondow.
Karena keunikan dan sudah pasti kecantikan dari patung tersebut maka, oleh Prajurit Mongondow, patung itu diserahkan kepada RajaMongondow yang konon waktu itu adalah Kolano Dodi Mokoagow yang memerintah Mongondow dari tahun 1560 - 1600.
Raja sangat terpesona dengan kecantikan petung Pingkan itu dan ingin mempersuntingnya. Kemudian Raja membentuk "Tim Pencari Fakta" untuk mennyelidiki siapakah gadis pemilik wajah cantik seperti pada patung itu. Maka kabar itupun tersiar di seantero negeri, hingga sampai ke telinga Pingkan dan Matindas. Mereka kemudian menyingkir dari kejaran sang Kolano Mokoagow hingga tiba di Kema, daerah Walak Tounsea.
Di Kema inilah Kolano Mokoagow akhirnya bertemu dengan Pingkan, dan langsung melamarnya. Namun Pingkan mengajukan syarat yaitu;
1. Memanjat pohon Pinang dengan mengenakan pakaian rakyat biasa,
2.Memakan buah pinang. Kolano Mokoagow menyanggupi permintaan Pingkan. Dengan tanpa curiga Kolano Mokoagow mulai memanjat pohon Pinang.
Matindas kemudian keluar dari balik persembunyiannya dan mengenakan baju yang ditanggalkan Kolano Mokoagow. Matindas langsung memberi perintah kepada prajurit mongondow untuk menangkap orang yang sedang memanjat pohon Pinang itu. Dengan kecerdikan dari Pingkan dan Matindas maka Kolano Dodi Mokoagow mati di tangan prajuritnya sendiri.
Demikianlah bangsa Mongondow menaruh dendam terhadap bangsa Malesung sampai terjadi perang antara kedua bangsa ini sampai pada akhir tahun 1600-an.
Inilah cerita Pingkan Matindas, terlepas dari beragam versi cerita tersebut namun, sejarah harus kita tuturkan demi mereka yang kelak lahir sesudah kita.

Maandag 06 Mei 2013

Perang Melawan Bolaang-Mongondouw dan Lahirnya Ikrar Minaesa


Ketika Raja Bolaang-Mongondouw dibunuh oleh pasukannya sendiri oleh kecerdikan Pingkan Mogoguney, maka dimulailah perang Malesung melawan Bolaang-Mongondouw (1606). Pada waktu itu suku-suku Minahasa tinggal di wilayahnya masing-masing sebagai negara-negara walak dengan pemerintahan sendiri. Pemimpin setiap walak disebut Tu’a um Walak.

Dari kerajaan Bolaang-Mongondouw, datanglah Ramokian menyerang Langoan, tetapi pasukannya berhasil dikalahkan. Ketika bala bantuan didatangkan, ia memutuskan untuk menyerang negeri Kakas dan Tondano. Dotu Gerungan (Tondano) dan Dotu Wengkang (Kakas) maju menghadapinya dan memukul mundur mereka sampai ke Mangket, dekat Kapataran sekarang. Ketika didengar oleh Walak Remboken bahwa saudara sesukunya diserang oleh pasukan Mongondow, maka majulah kepala walak Tarumetor bersama pemimpin-pemimpin yang lain: Kambil, Pakele, Sumoyop, Kawengian, Koagow, Sumarau, Kowaas dan Sendow ke Mangket, menghadapi pasukan Mongondow yang telah membangun pertahanan di Mangket. Tarumetor berhasil membunuh Ramokian dan laskar Remboken menang atas pasukan Mongondow.

Hal ini tidak menyurutkan dendam pihak Mongondow. Ketika Ratuwinangkang menjadi raja, maka dibawah panglima Ratuwangkang, yang adalah puteranya, ia memerangi tanah Malesung. Pada waktu inilah suku-suku di Malesung membentuk Serikat dengan mengadakan upacara adat di tempat-tempat peposanan. Menurut Dotulong, ada lima tempat di mana diadakan upacara adat itu, yaitu:
1. Touneroan;
2. Niaranan;
3. Pakewa;
4. Ro'ong-Wangko (Tourikeran=Toudano) dan
5. Di kaki Gunung Wulur-Ma'atus.
Dari peristiwa itu, maka lahirlah serikat persatuan suku-suku di Minahasa yang disebut dengan Minaesa yang berarti menjadi satu atau bersatu (dari kata esa= satu).

Raja Bolaang-Mongondouw kemudian datang memerangi tanah Malesung dengan lima pasukan:
Pasukan pertama dipimpin Ratuwinangkang menyerang Tombulu;
Pasukan kedua dipimpin Ratuwangkang menyerang Tondano, Kakas dan Remboken;
Pasukan ketiga dipimpin Romimpisan menyerang Tontemboan;
Pasukan keempat dipimpin Kuhiting menyerang Tonsea;
Pasukan kelima menyerbu Pulau Lembe dan Bangka.

Raja Bolaang-Mongondouw harus menelan kekalahan yang pahit. Di mana-mana mereka disambut dengan gagah berani oleh pasukan Minaesa. Pasukan mereka dikalahkan oleh Serikat sehingga tercerai berai. Mereka kemudian melakukan siasat gerilya yang banyak menimbulkan kerugian pada suku-suku di Minahasa. Mereka merampok dan membunuh. Setiap kali melakukan aksinya di wilayah salah satu suku, maka mereka akan bersembunyi di wilayah suku yang lain. Setiap suku di Minahasa menghormati batas-batas wilayahnya, sehingga selalu saja para gerilyawan itu dapat meloloskan diri.

Akhirnya Serikat pun memutuskan untuk menyerang secara serentak gerakan-gerakan gerilya di seluruh wilayah Minaesa, dan menuntaskannya supaya tidak lagi mengganggu kelangsungan hidup masyarakat. Dalam serangan itu, pemimpin-pemimpin dari masing-masing suku adalah:
Suku Tountemboan: Koemeang, Porong, Lampas, Waani;
Suku Tounsea: Lengkong Wuaya, Ramber;
Suku Toudano: Gerungan (Tondano), Wengkang (Kakas), Tarumetor, Pakele, Kambil, Kentur (Remboken);
Suku Toumbulu (Maiesu): Pelealu, Wangka, Tekelingan.

Dalam pertempuran itu gerombolan-gerombolan gerilya itu pun terusir jauh sampai ke tanah mereka sendiri, yaitu di seberang sungai Poigar. Demikianlah di dalam sejarah keturunan Toar Lumimuut lahir sebuah sejarah perserikatan yang disebut dengan Minaesa.

Sondag 05 Mei 2013

Legenda Danau Tondano


Dahulunya sulawesi Utara, memiliki gunung yang menjulang tinggi. Di lereng gunung itu terdapat kawasan yang terbagi dua wilayah, utara dan selatan. Dan setiap wilayah memiliki penguasa tersendiri Wilayah selatan dikuasai seorang Tonaas (penguasa) yang memiliki putra tunggal bernama Maharimbow.
Dan untuk wilayah utara  juga memiliki penguasanya ssendiri, dan penguasa wilayah utara juga memiliki seorang anak tetapi anak peempuan bernama Marimbow. Penguasa utara ini sering diliputi kerisauan saat memikirkan tentang pewaris kekuasaannya, karena anaknya seorang peempuan. Untuk mengatasi kerisauan itu, ia membuat suatu gagasan yang aneh. Dimana  Ia meminta anaknya untuk berperilaku dan berpakaian laki-laki dan berjanji untuk tidak menikah selama ia masih hidup. Permintaan Tonaas Utara dipenuhi anaknya yang diikrarkan dalam suatu upacara dihadapan para Opo Ompung (tetua). Bila sumpah itu dilanggar maka akibatnya akan terjadi malapetaka di wilayah itu. Sementara itu Tonaas wilayah selatan rupanya memiliki masalah yang hampir sama. Maharimbow diminta untuk bersumpah tidak menikah selama ayahnya masih hidup. Pada suatu hari kedua pewaris kerajaan itu bertemu di daerah perbatasan. Maharimbow merasakan bahwa orang yang dilihatnya itu, meskipun berpakaian seorang kesatria tetapi memancarkan kelembutan seorang wanita. Ia menjadi penasaran ingin mengetahui lebih jauh oang misterius itu. Pada pertemuan berikutnya yang diawali dengan pertengkaran, Maharimbow berhasil membuka tabir bahwa orang misterius itu adalah seorang perempuan. Dan diapun mengetahui bahwa orang misterius itu adalah maharimbow.
Dan akhirnya mereka berduapun saling jatuh-hati.  Dan mereka bersepakat untuk menjadi suami-isteri dan bertekad untuk mempersatukan kedua wilayah. Mereka tidak menyadari telah melanggar sumpah yang pernah diikrarkan.  Dan akhirnya pada keesokan harinya, tiba-tiba tejadi gempa dan gunung meletus yang memusnahkan wilayah itu dengan timbunan batuan dan lahar panas. Kemudian wilayah itu berubah menjadi danau yang sekarang dikenal dengan nama Danau Tondano.

Donderdag 02 Mei 2013

GMIM Masa Pergolakan Permesta


Gerakan Perjuangan Semesta (disingkat Permesta) lahir tanggal 2 Maret 1957 di Makassar, dengan Proklamasi dan Piagam Perjuangan Semestanya. Dalam proklamasi yang ditandatangani Letkol Ventje Sumual ini disebutkan “Demi keutuhan Republik Indonesia, serta demi keselamatan dan kesejahteraan Rakyat Indonesia pada umumnya, dan Rakyat Daerah di Indonesia Bagian Timur pada khususnya ...,” dengan penegasan “... segala peralihan dan penyesuaiannya dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dalam arti tidak, ulangi tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia.”
Gerakan ini memperjuangkan otonomi luas bagi daerah dengan komposisi untuk daerah surplus PAD adalah 70% dari pendapatan daerah untuk derah dan 30% untuk pemerintah pusat, sedangkan untuk daerah minus adalah 100% pendapatan daerah untuk daerah ditambah subsidi dari pemerintahan pusat untuk pembangunan vital selama 25 tahun.
Gerakan ini mendapat banyak tantangan dan hambatan dari Pusat, terutama PKI sehingga dengan terpaksa Permesta mengambil jalan yang dianggap terbaik, yaitu perang. Di sini berlakulah prinsip “civis pacem para bellum” (yang mencintai damai haruslah bersedia perang).
Pada saat pergolakan Permesta bergejolak di daerah ini tahun 1958-1961, GMIM terpanggil, terus berseru serta mengajak kedua kubu (Pusat-Permesta) yang berseteru untuk segera menghentikan pertikaian. Saat Tentara Pusat mengadakan operasi penumpasan Permesta Badan Pekerja Sinode GMIM dalam sidang tanggal 12 Maret 1958 mencetuskan sebuah seruan yang bunyinya antara lain: “Tinggalkanlah dan hentikanlah jalan kekerasan, melalui pemboman, perang saudara antara kita dengan kita. Hentikan pemuntahan peluru dan granat di Kota Manado dan kota-kota lainnya yang telah menyebabkan tewasnya orang-orang tak berdosa. Usahakan penyelesaian pergolakan ini, ganti pedang dan tarik pesawat-pesawat pembom serta serangan-serangan yang seru dan hebat (membahana)." Seruan itu ditandatangani oleh Ketua Sinode Ds AZR Wenas dan Panitera (Sekretaris Umum) Pdt. PW Sambouw. Selain itu ditegaskan dalam seruan itu: "Sekali lagi kami tegaskan bahwa adalah bertentangan dengan kehendak Tuhan Allah daerah kita Minahasa dan daerah-daerah lain yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen akan mengisap darah dari anak-anaknya sendiri dan darah suku-suku yang lain di Indonesia karena perang saudara ini."
Seruan yang dikeluarkan sekitar dua pekan setelah terjadinya pemboman di Manado dan Tomohon, tanggal 22 Februari 1958 ini ditujukan kepada sekitar 400.000 jiwa warga Kristen yang dipimpin oleh GMIM, yang tersebar di Tanah Minahasa, daerah pekabaran injil GMIM di Bolmong sampai Sulteng saat itu. Badan Pekerja Sinode GMIM juga menyusun seruan kepada pemerintah tanggal 12 Maret dan 28 Juni 1958.
Seruan Ds. Wenas diajukan lagi di Radio Permesta di Manado bulan April 1958 sebanyak dua kali yang mana menyerukan agar sengketa Pusat dan Daerah diselesaikan melalui musyawarah. Tanggal 5 Mei 1958 BPS GMIM menyerukan supaya di jemaat-jemaat diadakan doa syafaat untuk kesembuhan Negara dengan nats pembimbing II Tawarikh 7:14. Usaha-usaha perdamaian GMIM ini kemudian dianjurkan supaya diikuti juga oleh Gereja-gereja lain baik di Minahasa maupun di luar Minahasa.
Saat TNI mendarat di Kema pada 16 Juni 1958, BPS GMIM kembali mengeluarkan seruan yang ditujukan kepada Pemerintah Pusat, PRRI/Permesta serta kepada seluruh warga GMIM. Seruan itu dikeluarkan setelah mendengar dan menyaksikan bahwa pertempuran dan perang saudara antara anak dan orang tua mulai meluas terutama dari kawasan Kema ke Manado dan Tondano. Dalam seruan yang juga ditandatangani Ketua dan Panitera BPS GMIM diawali nats Mazmur 130:1,2. Seruan ini juga mengungkapkan: Sinode GMIM masih tetap berseru-seru minta dihentikannya perang setelah memperhatikan semakin banyak korban jiwa dan harta benda dan jatuhnya korban jiwa manusia yang besar sekarang ini belum pernah terjadi di Tanah Minahasa sebelumnya. Bahwa pengorbanan dan pembunuhan terhadap prajurit-prajurit resmi, anak-anak muda dan tentara pelajar serta rakyat jelata di desa dan penyingkiran tidak mungkin bisa dipertanggungjawabkan. Ini membangkitkan murka Tuhan Allah kita dalam Jesus Kristus." Sarana dan prasarana GMIM memang kena imbas, kendaraan-kendaraan diambil oleh TNI sehingga Ds AZR Wenas mengunjungi jemaat-jemaat dengan menunggang kuda. Nanti setelah setahun kemudian pada bulan Mei 1959 barulah hubungan-hubungan menjadi lancar karena kendaraan-kendaraan GMIM dikembalikan tentara.
Selama periode Pergolakan Permesta ini, GMIM berada pada masa “sial dan malang, genting dan berbahaya”, namun selama itu pula GMIM diuji. Akibatnya GMIM lebih dihargai oleh masyarakat di Minahasa dengan mengecualikan penganut paham komunis. Anggota-anggota jemaat, Majelis Gereja, pengantar-pengantar jemaat mengungsi ke kebun-kebun dan hutan-hutan. Jika banyak pendetta di antaranya anggota-anggota Badan Pekerja Sinode telah mengungsi bersama anggota jemaat, maka Ds AZR Wenas tinggal tetap di rumah kediamannya yang terletak di samping kantor Sinode di Tomohon. Para zendeling/misionaris dari Belanda dan Amerika harus menyingkir dari GMIM karena keadaan ini. Sekalipun demikian, GMIM tetap melayani anggota-anggotanya baik di daerah yang dikuasai Tentara Pusat maupun daerah yang dikuasai Permesta. Jalan-jalan raya menjadi rawan karena menjadi sarana pencegatan oleh pihak Permesta. Untuk bepergian, harus diadakan surat pas/ijin, baik di daerah yang sudah dibebaskan TNI maupun di kalangan Permesta sendiri.
Dalam periode pergolakan Permesta ini juga terbentuk dua kekuatan, yaitu pemerintahan militer dan sipil yang taat pada Pemerintah RI (Pusat) dan pemerintahan militer dan sipil yang taat pada PRRI dalam naungan Divisi Permesta. Dua kekuatan yang saling membinasakan ialah yang pro dan anti Permesta. Selama periode ini tenrata Pusat dan Tentara Permesta saling tembak, kejar-mengejar dan saling membom. Selain itu antar saudara saling bunuh, suami berpisah dengan keluarga bahkan tewas di medan tempur, saling curiga, saling menculik, pendidikan terbengkalai, penyakit merajalela karena kekurangan obat-obatan.
Moral dan akhlak, kehidupan jasmaniah dan rohaniah saat itu berada di peringkat paling bawah dalam sejarah Minahasa modern. Beberapa orang bahkan bertindak kanibal, walau binatang dengan mudah didapat di hutan bahkan hewan-hewan peliharaan yang dibiarkan oleh para pemilik yang mengungsi.
Selain itu, menguatnya kembali mistik di kalangan orang Kristen Minahasa dengan mewabahnya demam mistik. Kepercayaan terhadap kekuatan mistik Opo-opo, leluhur orang Minahasa yang sangat diyakini kembali mengental. Kekebalan tubuh terhadap bacokan atau tembakan senjata merupakan hal yang paling laris dalam situasi yang siap bertempur tersebut. Jimat-jimat tersebut ada yang berbentuk batu cincin, keris, sapu tangan, atau ikat pinggang jimat. Yang paling disukai dan dianggap hebat kesaktiannya adalah ikat pinggang jimat, berupa batu-batu kecil ataupun akar-akaran yang telah dibungkus dengan kain merah, beruas-ruas yang disebut Sambilang Buku (Sembilan Ruas). Selain itu ada jimat penghilang tubuh serta jimat terbang yang juga menjadi 'dagangan' laris saat itu. Ada juga jimat yang diberikan dalam bentuk air yang diminum atau dimandikan. Salah satu akibat utama dari mistik ini adalah banyak menimbulkan perpecahan bahkan lucut-melucuti senjata, serta kudeta kekuasaan di antara sesama pasukan. Hal ini merupakan kelemahan fatal bagi keutuhan dan kekuatan Permesta, sebab seorang bawahan yang merasa dirinya sakti, bisa saja melawan atasannya.
Oleh karena itu GMIM merasa terpanggil untuk menyegarkan kembali makanan rohani warganya. Ketua Sinode Ds AZR Wenas kemudian menyusun renungan tanggal 31 Desember 1958 dan 1 Januari 1959 untuk dibacakan di radio tidak diucapkan karena tidak disetujui Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Tomohon (Pekuperda). Sekalipun demikian stensilannya dapat diterima oleh jemaat-jemaat sampai di hutan-hutan.
Tercatat beberapa kali Ds Wenas ke Jakarta melaporkan kepada para pejabat terkait maupun warga Kawanua di sana untuk turut berperan mengatasi hal ini. Beberapa kali Ds Wenas menyurat bahkan bertemu langsung dengan Presiden Soekarno untuk melaporkan dan mencari penyelesaian. Sedikitnya tiga kali Ds Wenas menyurati Presiden Soekarno yakni tanggal 27 dan 28 Agustus serta tanggal 26 September 1959 guna mencari penyelesaian konflik itu.
Pada sisi yang lain ia juga menjadi perantara untuk bertemu dan membahas permasalahan itu dengan tokoh-tokoh Permesta. Jadilah Ds Wenas sebagai kurir. Suatu waktu ia disuruh menemui Kolonel Joop Warouw di Remboken. Demikian juga dengan Kolonel Kawilarang di Desa Panglombian ataupun di Desa Tara-Tara. Dalam suasana yang sulit sekalipun Pelayan yang setia ini tetap sedia melaksanakan misinya meski harus berjalan kaki atau naik kuda sekalipun demi tercapai dan terciptanya perdamaian di daerah ini.
Hal senada sebenarnya sudah disampaikan sejak Prsiden Soekarno hadir dan berpidato pada HUT Sinode GMIM, 30 September 1957 di Gereja Sion Tomohon. Ketika itu Permesta baru 6 bulan diproklamirkan. Alhasil, tanggal 14 April 1961 tokoh-tokoh kedua kubu yang bertikai menghadiri pertemuan yang diistilahkan sebagai "Penyelesaian" di Susupuan, yakni perbatasan Tomohon dengan Desa Woloan. Lagi-lagi GMIM yang bertindak selaku fasilitator mengerahkan sejumlah pekerjanya mempersiapkan lahan upacara pertemuan itu. Permesta diwakili Panglima Besar Alex Kawilarang dan Pemerintah Pusat oleh KASAD Jenderal Achmad Yani. "Penyelesaian" ini diawali dengan pertemuan pendahuluan perwakilan kedua kubu di Desa Lopana, Tumpaan pada 2 April 1961, dan kemudian ada pertemuan lagi antara Kawilarang-Nasution di rumah keluarga Hans Tular di Tomohon.